~ Cerpen: Cinta Dan Rizki Tak kan Lari Kemana ~

Cerpen: Cinta Dan Rizki Tak kan Lari Kemana.

"Aku tak akan pernah melupakanmu say, meskipun kita berjauhan nanti," Satrio memegang tangan Shela. Gadis bernama Shela itu menatap Satrio.
"Benarkah Satrio? Bagaimana nanti kalau disana kamu tergoda oleh gadis lain?" Shela belum mempercayai ucapan Satrio tadi.
"Percayalah, aku tidak akan tergoda meskipun gadis yang akan menggodaku secantik Syahrini," Satrio meyakinkan gadis disampingnya.
"Bukan aku tidak mempercayaimu Sat, tapi yang namanya manusia siapa tau," Shela kemudian menundukkan wajah ayunya. Dia sangat merasa berat melepas kepergian Satrio, orang yang dicintainya.
"Iya benar, namun aku kan selalu memegang janji hatiku untuk selalu setia pada cinta kita Shela," Satrio kian erat menggenggam telapak tangan Shela. Keduanya saling pandang, lantas Shela tersenyum meski berat di hati.
Sebentar kemudian bus yang ditunggu Satrio telah tiba.
"Yang itu kah Sat, bus yang akan kamu tumpangi?" Suara Shela.
"Sepertinya iya Shel," Jawab pemuda bernama Satrio disamping Shela.
"Ya sudah sana kamu kesana biar tidak ketinggalan," Kata Shela.
"Sebentar lagi Shel," Satrio memeriksa tiket yang kemarin dibelinya di agen bus tempatnya berada kini.
"Ya sudah. Tapi jangan salahkan aku lho, kalau nanti kamu ketinggalan, hik hiik," Shela tertawa lirih.
"Ya tidak lah Shel, masa aku menyalahkanmu. Oh iya, ini untukmu Shel," Satrio memberikan kotak kecil berwarna pink ke Shela.
"Apaan ini Sat?" Shela memandangi kotak kecil tersebut.
"Buka saja biar kamu tidak penasaran, hehee," Lirih suara Satrio terkekeh. Dia menatap wajah kekasihnya tersebut dalam-dalam. Sementara Shela terperanjak ketika dibukanya kotak tadi.
"Apa ini? Cincin?" Suara Shela.
"Iya Shel, dan itu untukmu," Satrio tersenyum.
"Benarkah ini untukku Sat," Tanya Shela.
"Benar. Mari aku yang memasukkan ke jarimu," Shela memberikan cincin tersebut. Satrio lantas memasukkan jari manis si Shela ke lobang cincin emas tadi. Mereka kembali saling pandang.
"Satrio. Ah tidak," Suara gadis bernama Shela.
"Kenapa Shel? Apa kamu tidak suka memakainya disitu," Satrio mengernyitkan dahi.
"Suka kok Sat, aku suka," Jawabnya.
"Lalu?" Tanyanya Satrio.
"Tadi aku seperti melihat Winda melintas di pinggir bus itu," Kata Shela.
"Winda? Winda Handayani maksudmu?" Satrio langsung mencari seseorang yang Shela katakan tadi.
"Iya, Winda Handayani," Jawab Shela.
"Bukankah Winda telah lama meninggal Shel? Ah ngaco kamu," Kata Satrio.
"Bener kok, tadi aku melihat orang seperti Winda berjalan disana, lalu hilang entah kemana," Kata Shela pada Satrio. Pemuda itu terdiam, dia berpikir, bahwa tidak mungkin itu adalah Winda, karena Winda sudah tiga bulan ini meninggal dunia.
"Mungkin itu orang lain yang kebetulan mirip Winda saja Shel. Ya sudah, aku ke bus itu dulu ya, mungkin sebentar lagi busnya berangkat.
Jaga dirimu baik-baik ya Shel. Ardi, jaga kakakmu ya," Satrio kemudian mencium kening Shela. Setelah menyalami Shela dan adiknya, Satrio bergegas menuju ke bus yang sudah siap mengangkut dirinya dan yang lain ketempat tujuan.

Shela dan adiknya belum beranjak dari tempatnya, karena bus yang ditumpangi Satrio belum berangkat.
Gadis tersebut memandangi cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Dia mendesah lantas memandang bus di depannya.
"Satrio, aku akan menjaga apa yang kamu berikan ini. Aku juga akan selalu setia padamu selama kamu juga memegang cinta dan setiamu.
Semoga kamu disana akan baik-baik saja nantinya Sat," Suara Shela lirih di ujung bibir. Sementara itu, Satrio juga memandangi Shela dari dalam bus.
"Shel, aku pasti akan menjaga cinta ini. Aku akan selalu setia meski nanti ada penggoda.
Tunggu aku ya Shel, aku pasti akan kembali dan akan meminangmu," Ucap Satrio dalam hati.
Setelah beberapa saat bus itu berhenti ditempat tersebut, lantas bus pun berjalan pelan naik ke jalan beraspal menuju ke tempat tujuan.

Mata indah Shela mengikuti gerak laju bus yang ditumpangi oleh kekasihnya.
Belum juga bus tersebut hilang dari pandangan Shela, tiba-tiba "DUEEERRR" terdengar suara benturan keras. Bus yang ditumpangi Satrio ditabrak truk gandeng yang melaju kencang dari arah belakang. Bus tersebut sempat zig zag sebentar sebelum kembali ditabrak oleh kendaraan lain dari arah depan.
"Satrio!" Sontak saja Shela berteriak, langsung berdiri dan berlari ke arah bus tadi. Sebentar saja kerumunan orang memenuhi tempat kejadian. Lalu Lintas menjadi macet karena posisi bus yang melintang di badan jalan.
"Satrio..," Shela tampak panik. Dia berusaha mencari tau keadaan Satrio di dalam bus.
"Minggir mbak, minggir. Bus mau dimundurkan," Suara seseorang pada Shela. Gadis bernama Shela itu pun mundur beberapa langkah.

Shela terkejut ketika melihat Satrio turun dari dalam bus dengan tangan berlumuran darah.
"Satrio?!" Dia berlari menghampiri Satrio. Rupanya Satrio terluka pada sisi kepalanya. Ada darah menetes dari kepala Satrio. mungkin karena Satrio kena hantaman kaca belakang bus yang ditumpanginya, karena memang tempat duduk Satrio berada pada kursi paling belakang.
"Shela," Lantas Satrio mengambrukkan diri ketanah. Mungkin karena rasa pusing di kepala akibat darah yang keluar, hingga pandangan menjadi gelap kemudian ambruk.
"Satrio..., dik sini dik," Shela memanggil adiknya yang berdiri tidak jauh darinya. Kemudian mereka mengangkat tubuh Satrio dan membawanya kedepan sebuah warung yang tidak jauh dari tempat tersebut.
"Ini mbak air minumnya," Kata adiknya Shela. Gadis tersebut lantas meminumkan airnya pada Satrio.
"Aduh.., ada-ada saja sih halangannya," Kata Satrio.
"Tidak apa-apa kan Sat, yang penting kamu selamat," Ujar Shela.
"Iya, tapi.. Keberangkatan ini," Ucap Satrio.
"Sudahlah Sat, yang penting kamu selamat. Nanti keberangkatanmu ini di batalkan saja ya, kapan-kapan bisa dipikirkan lagi," Kata Shela sambil mengelap darah di kepala Satrio.
Dengan berat hati, Satrio membatalkan keberangkatannya ke Kota.
"Sudahlah Sat. Jangan kamu pikirkan tiket itu, yang terpenting kamu selamat. Sekarang kita pulang yuk," Kata Shela. Mereka kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Cinta dan Rizki memang tak kan kemana. Setelah Satrio batal dalam keberangkatannya ke kota, dia malah mendapatkan tawaran dari seorang teman sekolah waktu itu.
"Kebetulan ini Sat. Ditempat kerjaku lagi membutuhkan karyawan. Kalau kamu mau, kamu bisa menyiapkan berkas-berkas lamaran pekerjaan. Nanti biar aku yang memasukkan lamaran tersebut," Kata Fauzi, temannya Satrio.
"Benarkah Zi?" Satrio menanggapinya dengan serius.
"Iya Sat, benar. Kamu mau tidak? Tapi gajinya kecil sih," Kata Fauzi.
"Mau banget Zi, gaji kecil tak masalah.
Kalau masalah berkas lamaran, aku sudah siap. Tinggal menyalin lampirannya saja kok," Terang Satrio.
"Ok, mumpung aku di rumahmu, sekarang kamu salin itu lampiran lamarannya, nanti biar aku bawa sekalian," Kemudian Satrio bergegas mengambil berkas lamaran dan menyalin apa yang diperlukannya. Setelah itu, Fauzi pamit pulang karena hari sudah malam.

Setelah beberapa hari lamaran pekerjaan tersebut dimasukkan oleh Fauzi, akhirnya panggilan kerja pun diterima Satrio.
"Itu kan Sat, pekerjaan bukan cuma di kota saja adanya. Buktinya di daerah sini kamu juga mendapat kerja," Kata Shela tersenyum.
"Iya Shel, dan yang terpenting kita tidak jadi berjauhan ya, hahaa," Kata Satrio yang lantas memencet hidungnya Shela.
"Iiih sakit. Hemmm maunya." Shela mencubit lengan Satrio. Keduanya lantas tertawa ceria. Sekian.

klik ini dong kang mas, diajeng!

0 Response to "~ Cerpen: Cinta Dan Rizki Tak kan Lari Kemana ~"

Posting Komentar