Cerpen: Pelajaran Cintaku Darinya.
Suasana dalam kelas IX tampak sepi, karena baru saja bell istirahat berbunyi dan para siswa keluar untuk istirahat dari jam pelajaran. Namun tidak demikian dengan Prasetyo. Dia masih duduk di bangkunya, dia tampak asik dengan sebuah buku mata pelajaran matematika.
Dari arah luar kelas, masuk Shintya. Dia mendekati Prasetyo yang saat itu duduk sendiri.
"Hei Pras. Tau tidak, kalau Cinta Bella suka sama kamu," Kata Shintya pada Prasetyo. Remaja bernama Prasetyo itu cuma sebentar melihat wajah Shintya, lalu dia melanjutkan membaca bukunya.
"Ichhh, sebel kalau ngomong sama kamu, selalu cuek!" Shintya menarik buku yang lagi dibaca Prasetyo.
"Eits eits, kemarikan bukunya," Kata Prasetyo."Ini. Pras, kamu dengar tidak sih apa yang tadi aku omongkan?" Shintya duduk di sebelah Prasetyo.
"Iya dengar, terus?" Prasetyo kembali melanjutkan membacanya.
"Tutup dulu bukunya kenapa sih, diajak ngomong kok!" Shinta rada sewot.
"Iya aku tutup. Terus?" Kata Prasetyo yang lantas menutup bukunya.
"Teras terus teras terus! Ya itu tadi, Cinta Bella suka sama kamu," Shintya kemudian membuka bungkus permen yang diambil dari saku roknya.
"Aku tidak percaya kalau dia suka sama aku," Prasetyo menatap Shintya dengan mimik wajah tidak percaya.
"Di bilangi kok tidak percaya. Dia sudah beberapa kali bilang ke aku kalau suka kamu Pras..! Permen mau?" Shintya menyodorkan permen pada Prasetyo. Dengan cepat Prasetyo mengambil permen dari Shintya, lalu mengupasnya.
"Bagaimana Pras, apa kamu menerima cintanya dia?" Tanyanya Shintya.
"Emmm, gimana ya? Suka sih suka, tapi aku takut juga berpcaran," Ucap Prasetyo sambil mengunyah permen karet.
"Kok takut?" Tanya cewek disamping Prasetyo.
"Ya takutlah, orang aku belum pernah pacaran. Nanti setelah dia menjadi pacarku lalu dia minta dibelikan baju, gimana coba?!" Prasetyo kembali membuka buku di hadapannya.
"Mulai mulai.., sudah ah, ngebacanya nanti saja.
Kalau itu sih gampang, dipikir nanti saja. Yang penting buruan kamu nembak dia, kasihan lho dia ngarep bener sama kamu," Shintya memandangi Prasetyo dengan senyum di kulum.
"Ngapain kamu senyum-senyum Shin? atau jangan-jangan kamu bohong ya," Ada keraguan pada diri Prasetyo atas kata-kata Shintya tadi.
"Sweer kok. Aku senyum-senyum karena ngelihat jerawat di keningmu itu. Pasti sakit ya kalau waktu sujud dalam Shalat, hik hik hiiik," Shintya malah cekikikan.
"Oh.. ini, he'em sakit.
Emmm, ok deh nanti aku tembak dia. Tapi janji ya, kamu jangan bilang kesiapa-siapa," Kata Prasetyo.
"Tenang saja.., beres kalau cuma itu. Eh sudah bell, sudah dulu ya," Shintya bangkit dari bangku yang di dudukinya. Dia kemudian menuju dimana biasanya duduk di dalam kelas tersebut.
*
Bell istirahat yang kedua sudah berbunyi. Seperti halnya jam istirahat pertama, siswa-siswi pada keluar kelas, begitu juga dengan Prasetyo. Kali ini dia keluar kelas untuk menyegarkan kepenatan otaknya.
"Hei Pras, kamu ditunggu Cinta Bella disana," Suara Shintya pada Prasetnyo. Prasetyo menatap Shintya, lalu menoleh kearah seorang gadis yang duduk di bawah pohon bunga sepatu di samping sekolahan.
"Tapi aku takut Shin," Ucap Prasetyo.
"Tidak usah takut, apa perlu aku temani? Sana ah temui dia," Shintya agak mendorong tubuh Prasetyo. Remaja itu diam sebentar sebelum akhirnya mengangkat pantatnya dan berjalan kearah Cinta Bella.
Perasaan dag dig dug sangat dirasakan oleh Prasetyo, karena sebentar lagi dia akan menyatakan kalau dirinya suka sama gadis berna Cinta Bella tersebut.
"Hei Cin. Emmm, bolehkah aku duduk disini?" Prasetyo memandang Cinta dengan perasaan aneh, karena memang perasaan itu belum pernah dialami sebelumnya oleh Prasetyo.
"Boleh, gak ada yang ngelarang," Sebentar Cinta menatap Prasetyo, lalu dia menundukkan wajahnya.
"Terima kasih. Cin, emmm, anu," Prasetyo terdiam.
"Anu apa," Sahut Cinta Bella.
"Anu, emmm, apa kamu suka padaku?" Kata Prasetyo dengan polos.
"Suka? Kita kan teman baik, ya pasti aku suka kamu Pras," Jawabnya Cinta Bella. Prasetyo diam, dia merasakan ada kekeluan pada lidahnya untuk menjelaskan pada Cinta Bella tentang apa yang dikatakan oleh Shintya.
Keduanya terdiam, mereka saling bermain pada perasaan masing-masing. Ingin Prasetyo bilang 'I LOVE YOU' ke Cinta Bella, namun kalimat itu selalu berhenti di ujung lidahnya. Begitu juga Cinta Bella, dia tidak mampu untuk mengucapkan kata itu pada Prasetyo.
Sejurus kemudian mereka saling pandang, saling tersenyum, lantas sama-sama saling menundukkan wajah. Mereka sama-sama masih malu untuk mengungkapkan perasaan cinta yang ada.
Tampak Prasetyo menoleh kearah Shintya yang duduk mengamati mereka. Melihat hal tersebut, Shintya menganggukkan kepalanya, tanda kalau Prasetyo harus menembaknya sekarang.
"Cin, aku suka kamu. Aku cinta kamu Cin," Prasetyo lalu menunduk lagi. Dia memainkan kakinya dengan menendang-nendangkan ranting kering yang tergeletak disitu.
"Benarkah kamu cinta aku Pras?" Kata Cinta Bella dengan menatap wajah cowok disampingnya.
"Iya Cin, aku cinta kamu. Cin, apa kamu mau menerima cintaku?" Kata Prasetyo dengan dada berdebar.
"Iya Pras, aku menerima cintamu," Jawaban Cinta Bella itu sangat membuat hati Prasetyo berbunga, karena memang sudah lama dia memendam perasaan suka pada gadis disampingnya tersebut.
Bagaikan kran air sudah dibuka, kini perbincangan antar keduanya mengalir begitu saja, tidak ada lagi kekakuan ataupun kelu pada lidahnya Prasetyo.
"Sudah bell, kita masuk ke kelas ayo Cin," Ajak Prasetyo.
"Ayo," Sahut Cinta Bella. Mereka kemudian kembali masuk ke dalam kelas karena bell masuk sudah berbunyi.
**
Prasetyo dan Cinta Bella kini sudah menjalin hubungan. Mereka kini berpacaran, namun pacarannya mereka tidak lantas dipublikasikan ke teman-teman kelasnya karena mereka masih malu. Cukup mereka berdua dan Shintya yang tau atas hubungan mereka.
Meskipun mereka sudah berpacaran, namun mereka sering malu-malu kucing. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu pacaran dengan berchatting lewat sosial media.
Di sosial media tersebut mereka saling merayu, merancang masa depan cinta mereka sampai janjian untuk bertemu.
Waktu terus bergulir, tidak terasa jalinan cintanya Prasetyo dan Cinta Bella hampir menginjak 1 tahun.
Meskipun mereka menyembunyikan jalinan cinta itu, toh pada akhirnya ada juga teman yang tau kalau mereka berpacaran.
"Pras, benarkah kamu pacaran sama Cinta Bella?" Tanya Teddy temannya Prasetyo.
"Tidak," Jawabnya.
"Ah bohong. Aku lihat kamu tampak lain dengan Cinta Bella. Kamu tampak mesra dengan dia," Ujar Teddy.
"Bener, aku tidak pacaran dengan Cinta Bella kok. Memang tampak mesranya gimana Ted?" Prasetyo benar-benar ingin merahasiakan cintanya, karena hal tersebut sudah menjadi komitmen antara Prasetyo dan Cinta Bella.
"Ya sudah kalau tidak mau mengaku.
Dari segi bicaramu sama dia, aku tau kok kalau kamu pacaran sama Cinta Bella.
Eh maaf Pras, bukan aku iri atau gimana. Aku hanya sekedar ngasih tau ke kamu kalau Cinta Bella itu tidak baik buat kamu. Dia tidak pantas untuk menjadi pacarmu lho Pras. Sebenarnya Cinta Bella itu suka berbicara kotor, dia suka menyertakan nama-nama hewan dalam berbicaranya," Terang Teddy yang tidak lain adalah sahabat karibnya Prasetyo.
"Terus aku harus bagaimana Ted? Apa aku harus memendam perasaanku pada dia, sementara aku mencintai dia, dan perasaan itu tidak bisa aku pungkiri Ted! Pantas tidak pantas ya urusan nanti," Sepertinya Prasetyo agak tersinggung, dia seperti ingin mengatakan pada Teddy 'Kamu jangan ikut campur masalah cintaku!' namun hal itu ditahannya.
"Ya sudah, terserah kamu saja Pras," Teddy pun berlalu dari hadapan Prasetyo karena ada suatu hal yang harus dikerjakan di rumahnya.
Entah apa yang ada di pikirannya Cinta Bella saat itu. Hampir 1 tahun jalinan cinta itu tumbuh dan bersemi, kini pupus sudah. Cinta Bella memutuskan Prasetyo dan menjalin cinta dengan cowok lain. Tentu saja Prasetyo kalang kabut dibuatnya.
Menjalani hari-hari cintanya dengan selain Prasetyo, tampaknya Cinta Bella juga tidak bertahan lama. Setelah 6 bulan cewek tersebut menjalin percintaan dengan cowok lain, pada akhirnya putus lagi.
Melihat hal itu, Prasetyo sangat prihatin. Bermodal ketulusan cinta yang ada pada dirinya, Prasetyo kembali mengutarakan cintanya pada Cinta Bella. Cewek tersebut menerima Prasetyo, bahkan dia bilang ke Prasetyo agar 'Setia' pada dirinya. Namun apa yang terjadi? Tidak lama kemudian, kembali Cinta Bella memutuskan Prasetyo.
"Kalau aku tau bakal seperti ini, tentu aku akan mendengarkan kata-katamu Ted." Ujar Prasetyo disela renungannya. Kini dia sangat berhati-hati dalam menentukan pilihan pada sesuatu yang bernama Cinta. Selesai.
http://zackymadumoe.mywapblog.com/cerpen-pelajaran-cintaku-darinya.xhtml
BalasHapusHarus milih2 pasangan, jgn sampai menyesal disuatu saat kay mas prasetyo
BalasHapusYg namanya cinta yg kayak begitu. Dari sifatnya yg baca buku aku yakin kala si Prastyo itu pintar tapi bodoh jika di hadapan cewek:cry:
BalasHapusSeharusnya kita lebih memilih mendengarkan sahabat dari pd orang yg dicintai -_-
wesss keren terharu gan
BalasHapusCinta antara si Prasetyo dan Cinta Bella ini sebenarnya udah cukup baik buat mereka ber2 tapi yang namanya seorang sahabat sejati tentulah si Teddy akan mengingatkan tentang sifat buruk dari pacarnya agar tidak kebawa ke dalam hal2 yg tidak baik juga tuh Gan..
BalasHapushehehe, ceritanya kreatif banget. :D
BalasHapusTapi kenapa ya Namanya harus persis denganku? :?
Apa aku tampan? :lol:
@Bahrian Adhi Prasetyo,
BalasHapusWow, namanya sama dengan agan ya? Hahaa. Bisa jadi karena agan tampan dan menular kesini, hahaa.
@Arief Firmansyah,
BalasHapusBenar banget gan. Namun sayang, orang yang lagi dimabuk asmara sering sekali susah mendengar dan menerima atas saran dari orang lain, meskipun itu adalah teman terdekatnya.
@anam ku,
BalasHapusiya gan.
@Singgih Tutorial,
BalasHapusTidak jarang yang namanya asmara katanya bisa membutakan. Entah membutakan mata, telinga ataupun hati kita. Sehingga terkadang sulit menerima dan mencerna saran dari seorang teman.
@aris riswanto,
BalasHapusTapi juga jangan lama-lama memilihnya gan, nanti yang ada malah kita tidak dapat-dapat, hahaa.
wah kasihan bgt th si prasetio di putusin pasti hatinya sangat sakit
BalasHapusSemua kita serahin sama takdir, yg penting kita berusaha mencari yg lebih baik karena usaha itu termasuk takdir jd kalo kita berbicara masalah takdir semua harus kita kaitkan, ilmu memahami takdir tidak semudah yg kita omongkan. Orang jatuh itu takdir, tapi pemahan akan takdir jangan se cetek seperti itu, takdir itu luas yg saling berkaitan dari hal terkecil sampai nass nya. Maaf kalo gak nyambung xixixxi
BalasHapusKunjungan perdana gan, blognya udh sy follow jgn lupa folback biar sling berkunjung
kalau orang yang sedang dimabuk cinta memang tidak bisa dinasehati walau dari sahabat karibnya yang ada didiri pasangannya tentu yang baik baik saja persis seperti prasetyo akhir baru menyesal setelah dikhianati
BalasHapus@Hermansyah,
BalasHapusIya gan. Dulu saya juga seperti itu, susah untuk bisa menerima nasehat dari orang lain meski itu adalah teman terbaikku. Kiranya diri telah ditutupi oleh perasaan cinta yang menggebu, hehee.
Cinta memang bisa membutakan.
BalasHapus@Alhusaini7lapan,
BalasHapusKalau bicara mengenai takdir memang terkadang susah untuk bisa dimengerti oleh akal. Dan pada akhir kita harus bisa berserah diri pada Sang Khaliq atas takdir itu sendiri.
@BaiQ Ratna Antika,
BalasHapusHehee, iya gan. Aplagi saat diputusinnya hatinya lagi berbunga-bunga.
@Ratna Shun Yzc,
BalasHapusBenar gan, tapi kita jangan sampai berlama-lama dalam kebutaan cinta, hehee.
kalo menurut saya
BalasHapusCINTA itu seperti PERMEN KARET , pertama MANIS lama ke lamaan PAHIT terus di BUANG
paham kan sob :)
@Edo Romadon,
BalasHapusHahahaa, mungkin seperti itu gan. Namun juga tidak semua orang merasakan cinta seperti halnya rasa permen karet, karena mereka menjalani cinta dengan mengharap Ridho Illahi.