~ Cerpen: Derai Di Padang Tandus ~

Senja baru saja berpulang ketika Syahrinem terlihat gontai dalam langkahnya.
Dia langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi warna cokelat di rumahnya.
Nafasnya melenguh panjang seakan ingin menghempaskan rasa sesak di dada karena banyaknya persoalan yang semakin hari kian menumpuk tiada habisnya.
Syahrinem melihat jam dinding yang sebentar lagi menunjukkan pukul 7 malam.
Dia menyeka wajahnya. Sisa keringat tadi seharian begitu terasa lengket di seluruh badannya.
"Aku harus segera mandi sebelum dingin" Kata Syahrinem pelan. Dia melangkah menuju kamar dengan menjinjing tas kecil yang setiap hari menemaninya.

"Mas Rendi, aku kangen kamu. Sudah lama banget kita tidak ketemu, rasa rindu ini kian menggebu mas...!
Mas, adakah disana kamu berdua dengan yang lain? Hingga diri ini gelisah memikirkanmu. Maafkan aku mas," Syahrinem memandangi foto kekasihnya, Rendi.
Syahrinem memang sudah lama ditinggal Rendi merantau, yakni sudah 2 tahun, dan hanya sesekali saja Syahrinem mendapat telefon dari kekasihnya tersebut.
Mendadak air mata berderai, mengalir dari sudut-sudut matanya. Kiranya dia memang tak mampu lagi menahan kerinduan kepada Rendi. Biar bagaimanapun, Rendi adalah kekasih hatinya yang sangat dia cintai hingga Syahrinem terus memegang kesetian untuk cinta itu.
Syahrinem adalah wanita biasa yang juga terkadang tidak lepas dari gangguan cowok iseng ataupun yang benar-benar mengharap cinta darinya. Syahrinem juga wanita bertipe teguh pada sebuah cinta dan janji hingga waktu 2 tahun yang terbilang lama itu tidak membuatnya lantas ingin mencari cinta lagi selain Rendi.
Syahrinem tersenyum, ketika terbayang saat mereka berdua memadu kasih, indah memang. Namun berlahan dia bersedih karena ditinggal Rendi dan sudah 2 tahun lamanya dia belum sekalipun pulang dan menemuinya.
"Mas Rendi, andaikan kamu disini.
Oh, entah sampai kapankah aku seperti ini? Dalam jalinan cinta yang mengambang. Ingin rasanya aku pergi dari cinta ini, namun aku tak mampu.
Entahlah, dia begitu berarti buatku meski dia jarang ngasih kabar ke aku," Syahrinem mendesah sesak. Dia kemudian berbaring ditempat tidurnya guna meluruskan otot-otot tubuhnya dari rasa penat karena seharian berjibaku dengan pekerjaannya.
Sekali lagi Syahrinem mendesah, kedua matanya terpejam, sementara pikiran melayang jauh mencoba menyentuh bayang si Rendi.
"Ya Allah SWT, sampai kapankah hal ini aku jalani. Rasa tidak kuat menahan rindu pada kekasihku nan jauh disana.
Mas Rendi, tidak kah kamu tau, betapa aku sangat merindukanmu.
Datanglah mas, datanglah untukku. Aku rindu pelukanmu mas.
Datanglah mas, siramilah padang tandusku ini dengan belaian cinta kasihmu. Sejukkanlah taman cinta kita dengan senyum kasih pesonamu.
Pulanglah mas, datanglah untukku. Hangatkanlah diriku dengan kehangatan nafas cintamu. Oh mas Rendi," Syahrinem terus melayang dalam ruang hayal penuh harap akan kedatangan Rendi.

Syahrinem terbelalak ketika phonsel disebelahnya berdering dan muncul nama Rendi. Buru-buru dia mengangkat telfon tersebut.
"Hallo mas Rendi, apa kabarmu mas? Kemana saja kamu mas? Aku kan kangen banget sama kamu," Ucap Syahrinem diujung phonsel.
"Kabarku baik dik. Maafkan aku dik. Aku sibuk sekali, jadi baru hari ini aku bisa menelfonmu. Kabarmu sendiri gimana adikku sayang," Ucap Rendi.
"Alhamdulillah sehat mas. Mas, kenapa baru nelfon sih? aku kan kangen...," Kata Syahrinem manja.
"Kan sudah kubilang tadi, aku sibuk sekali," Jawab Rendi.
"Sibuk ya? Ya sempatkanlah mas untuk menelfonku meski sebulan sekali gitu. Eh, kapan kamu pulang mas," Syahrinem tampak sumringah.
"Entahlah dik," Kata Rendi.
"Kok entahlah, atau tidak mau pulang?" Ucap Syahrinem.
"Ya pulang dik, tapi gak tau kapan," Kemudian Rendi diam, begitu juga dengan Syahrinem. Mereka masing-masing berfikir bagaimana untuk bisa bertemu secepatnya.

Malam terus bergulir. Syahrinem dan Rendi masih berbincang lewat phonsel mereka.
"Dik, apa kamu masih mencintaiku?" Tanya Rendi pada Syahrinem.
"Kenapa mas tanyakan itu? Ya masih lah mas. Aku tetap mencintamu sampai kapanpun. Aku terus merindukanmu mas..," Jawab Syahrine.
"Bukannya aku meragukan cintamu padaku dik, siapa tau saja kamu telah berdua sama cowok lain karena terlalu lama menungguku," Kata Rendi.
"Tidak mas, aku tidak sama cowok lain. Aku tetap setia menunggumu meski sering aku rasakan rinduku tidak terbalas dan layaknya hidup di padang tandus yang jauh dari curahan hujan," Ucap Syahrinem.
"Terima kasih dik atas cintamu. Ternyata kamu tetap seperti dulu, setia pada cinta kita," Kata Rendi.
"Iya mas, dan bagaimana dengan kamu sendiri? Apakah kamu setia pada cintamu kepadaku," Tanya Syahrinem.
"Seperti halnya dirimu, aku tetap menjaga cinta ini untukmu meski sering aku rasakan kesepian tanpa belaian cinta di dekatku," Kiranya apa yang dialami Rendi juga sama dengan Syahrinem. Mereka sama-sama seperti berdiri di padang tandus yang memerlukan kesejukan.
Karena malam telah larut benar, akhirnya mereka sepakat mengakhiri percakapan. Sebelum telfon ditutup, Rendi bilang ke Syahrinem bahwa dirinya akan pulang tahun depan.
"Insya Allah, aku akan pulang tahun depan dik," Kata Rendi.
"Kok lama mas?!" Syahrinem lantas bengong. Dalam hatinya berkata, kiranya aku harus bersabar di tengah padang tandus ini. Sekian.

Klik ini dong kang mas, diajeng!

0 Response to "~ Cerpen: Derai Di Padang Tandus ~"

Posting Komentar