Cerpen: Pertarungan Di Gang 15.
Sebuah pertarungan antar dua kubu terjadi di Gang 15. Pertarungan tersebut dipicu oleh rasa amarah karena sebuah perbuatan yang boleh dibilang tidak terpuji.
"Rasakan ini, plak!" Baron melayangkan tamparan ke wajah Rino.
"Aduh, apa-apaan kamu!" Rino memegangi pipinya.
"Itu untuk ulahmu!" Kata Baron.
"Ulahku? Ulah apa?!" Rino mengernyitkan kening karena tidak tau maksud omongan Baron.
"Karena ulahmu, adikku jadi hamil!" Baron melotot.
"Adikmu siapa? Aku tidak kenal," Rino menatap tajam Baron.
"Ngapain kamu melotot hah!
Jangan pura-pura bego kamu, mau aku tambahi dengan jotosan!" Baron mengepalkan tangan.
"Emang aku tidak kenal dengan adikmu kok, lagian kamu itu siapa aku juga tidak kenal," Kata Rino.
"Ah memang brengsek kamu Rinto!
Aku Baron, adikku Dessy.
Ini, plak plak!" Baron melayangkan tamparan lagi ke wajah Rino, tapi pemuda itu menangkis dan berkelit.
"Hei, aku bukan Rinto, tapi Rino!" Sambil menghindari pukulan Baron selanjutnya, pemuda itu bilang kalau dirinya bukanlah Rinto tapi Rino.
"Persyetan! Mau Rino mau Rinto, dasar brengsek!" Baron terus merangsek. Rino bukannya tidak mau membalas pukulan dari Baron, namun lebih baik menghindari dari pada meladeni orang yang lagi kalap, pikir Rino.
"Sudah hentikan! Aku bukan Rinto, kamu salah paham!" Suara Rino.
"Ahhh!" Bukannya menghentikan pukulannya, Baron malah semakin kalap.
"Baiklah kalau memang kamu mengajakku berkelahi. Ayo, aku ladeni!" Rino memasang kuda-kuda. Mendengar ucapan Rino tadi, Baron langsung menerjang Rino. Tendangan dan pukulan Baron lancarkan, namun semua menerpa ruang kosong, karena Rino sangat gesit menghindar. Justru satu tendangan dari Rino mendarat telak di dadanya Baron. Lelaki bernama Baron itu pun terhuyung.
"Bagaimana?" Kata Rino dengan santainya.
"Jangan sombong dulu kamu brengsek!" Baron kembali menerjang Rino. Lagi-lagi pukulan Baron mengenai angin. Dengan cepat Rino mendaratkan satu bogemnya ke wajah Baron, Prak!. Lelaki bernama Baron tersebut kembali terhuyung. Dia mundur sambil memegangi batang hidungnya. Ada darah mengalir dari lubang hidung si Baron.
"Tunggu pembalasanku!" Baron pun kabur dengan menaiki sepeda motornya.
"Hemm, siapa laki-laki tadi? Ini pasti ada hubungannya dengan kak Rinto," Rino mengelap keringat di wajahnya, lalu dia meninggalkan tempat tersebut untuk pulang ke rumah.
*
"Kak Rinto, apa yang telah kamu lakukan pada cewek bernama Dessy? adiknya Baron," Tanya Rino pada Rinto setelah sampai di rumah.
"Apa yang aku lakukan? Gak ada. Memang dari mana kamu tau nama cewek itu," Jawab Rinto dan membalik lembar koran yang lagi dibacanya.
"Tadi aku ketemu lelaki bernama Baron, dia bilang kalau Rinto telah menghamili adiknya, kemudian kami berkelahi," Rino menatap Rinto dengan sorot mata ingin tau.
"Jadi kamu berkelahi dengannya?!" Rinto tampak tegang.
"Iya, kenapa?" Rino mengernyitkan kening.
"Dia itu temannya banyak. Dia termasuk preman terminal. Bakal runyam ini," Kata Rinto.
"Kenapa memang kalau dia preman, kakak takut?" Kata Rino.
"Tidak, cuma bakal panjang urusannya," Rinto semakin tegang saja.
"Sebenarnya kamu melakukan apa yang dikatakan oleh Bondan tidak kak," Tanya Rio dengan serius.
"Iya," Jawab Rinto.
"Emm, kalau gitu akui saja dihadapan Bondan dan bertanggung jawab atas perbuatanmu itu kenapa sih kak? Ya biar tidak runyam," Rino mencoba ngasih saran pada kakaknya.
"Iya, tapi tidak semudah itu. Masalahnya kamu sudah berantem sama dia, itu berarti akan ada genderang perang Rino, tau tidak?! Apalagi dia sudah tahu tempat tinggal kita ini," Rinto makin tegang.
"Ya kita ladeni saja, kenapa takut. Ya sudah, aku mau mandi dulu kak, gerah! Nanti aku mau minta bantuan ke teman-teman untuk mengantisipasi Bondan dan teman premannya," Rino meninggalkan saudara kembarnya itu.
"Iya, aku juga mau ketempat teman-teman yang biasa nongkrong di mall," Bergegas Rinto meletakkan koran ditangannya. Dia kemudian menemui geng-nya.
Sementara itu, Bondan langsung meminta bantuan ke teman-temannya di terminal.
* *
"Kamu kenapa Ndan?!" Tanya salah seorang preman.
"Aku habis berantem sama Rinto si brengsek itu!" Bondan mengelap sisa darah yang sudah mengering di hidungnya.
"Wah wah wah, kita harus memberi pelajaran dia Ndan!" Kata seorang preman yang duduk disamping Bondan.
"Bukan cuma dikasih pelajaran, tapi dihabisi nyawanya!" Bondan tampak emosional.
"Ya sudah, kalau gitu kita habisi saja dia sekarang! Kamu tau dimana dia tinggal kan?!" Kata temannya Bondan yang lain.
"Ya. Dia tinggal di Gang 15, tidak jauh dari sini," Bondan dengan ditemani beberapa teman yang notabene adalah preman terminal kemudian terlihat mempersiapkan diri guna membuat perhitungan sama Rino atau Rinto. Berbagai macam senjata tajam juga mereka siapkan. Rencananya mereka segera menuju ketempat Rinto dan Rino.
Ditempat lain, Rinto juga tampak berkumpul dengan teman-temannya, dia meminta bantuan pada teman-temannya tersebut untuk menghadapi ancaman dari Bondan. Begitu juga dengan Rino, dia menghubungi teman-temannya untuk membantu kakaknya Rinto dari ancaman Bondan.
Pertemuan dua kelompok tidak bisa dihindarkan lagi. Bondan bersama teman-temannya tampak mengobrak-ngabrik tempat tinggalnya Rino dan Rinto. Untung saat itu kedua orang tua pemuda itu sedang tidak berada di rumah hingga mereka tidak menjadi sasaran dari amukan Bondan cs.
"Mereka gada ada ditempat Ndan. Bagaimana ini? Apa kita bakar saja rumahnya!" Ucap salah seorang teman Bondan.
"Jangan! Kita tunggu saja kedatangan mereka," Kata Bondan. Tidak lama kemudian dari dua arah berbeda, datang Rino dan Rinto bersama teman-temannya.
"Mereka sudah ada disini ternyata. Bagaimana, apa kalian siap?!" Teman-teman Rinto mengangguk.
"Siap boss," Jawab mereka.
"Ok. Mobil kita tinggal disini. Ayo kita hadapi mereka," Mereka lantas turun dari mobil yang mereka tumpangi untuk selanjutnya menuju rumah dengan berjalan kaki.
"Itu dia! Hajar..!!!" Suara Bondan. Mereka langsung berhamburan menuju kearah Rinto. Bentrokan tidak dapat dihindarkan. Dua kubu saling baku hantam dengan alat tajam ditangan mereka.
Dari arah lain, Rino dan teman-temannya juga langsung berhamburan turun dari mobil. Mereka langsung merangsek ke arena perkelahian.
"Ayo teman-teman maju...!!!" Suara Rino.
Kini pertarungan tidak berimbang, kelompok Bondan kalah jumlah. Akhirnya Bondan dan teman-temannya kabur terbirit-birit meninggalkan gelanggang.
"Untung kamu cepat datang Rino, kalau tidak.. kalau tidak bisa jatuh korban," Kata Rinto dengan nafas terengah.
"Iya kak, tapi rumah kita sempat jadi sasaran mereka." Kata Rino. Mereka pun akhirnya bubar dari tempat tersebut. Selesai.
http://zackymadumoe.mywapblog.com/cerpen-pertarungan-di-gang-15.xhtml
BalasHapusepisode sebelum ini mana mas....?
BalasHapus[size=16] Cerpen: Pertarungan Di Gang 14 [/size]
@Ketebskody,
BalasHapusTidak ada episode lainnya mas, kan cerpen langsung selesai gitu, hehee.
seru jga cerpen nya, gk sbar nunggu episode selanjutnya
BalasHapus@Iqbal Gamers,
BalasHapusTidak ada episode kelanjutan kok gan, hehee.
wahh bakat jdi penulis cerpen nih lurd..
BalasHapusjd endingnya siapa yg menang, siapa yg kalah tuh??
BalasHapusKayanya pertarungan antar geng di kita sering trjdi, mslahnya pun trkadang cuman hal sepele
@Dheden Vilaba,
BalasHapusBiasa gan, menyalurkan hobi, hehee.
@putuadimarta rachman,
BalasHapusEndingnya saya bikin datar saja gan, supaya tidak ada pihak yang merasa kalah dan menang, hehee.