Sakitnya Itu Disini Pak!
"Kurang ajar kamu Bu, dasar tidak tau malu!" Pak Junet meradang, mukanya memerah dan matanya melotot.
"Aku tidak melakukan itu pak, sumpah!" Bu Parti pun tidak kalah melototnya.
"Halah! Biar kamu mengelak, tapi aku tau apa yang kamu lakukan dengan Parto," Pak Junet makin melotot, tangannya mengepal dan giginya berbunyi gemeretak.
"Terserah kamu pak, pokoknya aku tidak melakukan apa-apa!" Bu Parti berlalu dari hadapan suaminya.
"Dasar! awas kamu Bu!" Kata Pak Junet lantas menendang kursi. Sementara itu, Bu Parti langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
"Enak saja dia menuduhku seperti itu. Memangnya aku wanita apaan!" Bu Parti membantingkan tubuhnya ketempat tidur. Dia terdiam sambil kedua matanya menatap langit-langit kamar.
Sebentar kemudian, Pak Junet menggedor-gedor pintu kamar tersebut.
Gubrak gubrak, "Buka pintunya!" Pak Junet masih emosi karenanya. Lama Bu Parti tidak membuka pintu tersebut, dia malah menutup telinganya dengan bantal.
"Peduli amat!" Kata Bu Parti.
"Buka pintunya, dasar!" Lantas Pak Junet menendang pintu tersebut hingga jebol. Pak Junet yang emosi langsung masuk dan menarik tubuh istrinya.
"Apa-apaan kamu pak!" Suara Bu Parti.
"Bangun! Plak!" Satu tamparan dia layangkan ke wajah Bu Parti.
"Aduh! Sakit tau!" Kata Bu Parti.
"Dasar kamu! Kurang apanya aku ini hah! Mau lagi!" Pak Junet melotot.
"Apa salahku sih pak! Kalau kamu mau menampar lagi silahkan! Ini, ayo tampar lagi!" Bu Parti memberikan wajahnya agar ditampar lagi oleh suaminya.
"Oh.. Jadi kamu menantang ya! ini, plak plak," Kembali tamparan keras mendarat di wajah Bu Parti.
"Hu hu hu huu, teganya kamu menamparku pak," Bu Parti menangis sambil mengelus pipinya.
"Itulah kalau kamu berani berbuat macam-macam diluaran sana dengan laki-laki lain!" Emosi Pak Junet belum mereda.
"Sudah aku bilang! Aku tidak melakukan apa-apa sama Parto," Bu Parti membenamkan wajahnya ke bantal di pahanya.
"Halah jangan bohong! Semua orang sudah pada tau, semua pada ngomong kalau kamu pacaran sama laki-laki itu!" Muka Pak Junet semakin memerah.
"Jadi bapak percaya begitu saja sama mereka!" Bu Parti menatap tajam pada suaminya.
"Iya, kenapa?!
Seharusnya kamu itu mikir!" Suara Pak Junet.
"Ya sudah kalau bapak percaya sama mereka! Minggir!" Bu Parti bangkit dari tempat tidur.
"Mau kemana kamu!" Pak Junet menarik tangan istrinya.
"Aku mau pergi!" Jawabnya.
"Pergi kemana! Duduk!" Pak Junet mendorong tubuh Bu Parti keranjang.
"Pergi kemana saja!" Bu Parti melirik kearah suaminya.
"Kenapa sekarang kamu susah diatur hah! Apa kamu minta aku ceraikan!" Suara Pak Junet bertambah berang.
"Ceraikan saja kalau itu maumu pak!" Bu Parti memalingkan wajah dari suaminya.
"Oh.. bagus sekali, bagus! Jadi itu maumu. Besuk juga aku ceraikan kamu!!!" Pak Junet geram.
"Kenapa besuk, sekarang juga tidak apa-apa!" Kata Bu Parti sambil sesekali memegangi pipinya yang masih terasa sakit.
"Ok! Sekarang kamu pergi dari hadapanku, cepat pergi...!!!" Gubrak!, Pak Junet menendang meja kecil di dekatnya. Namun Bu Parti diam, dia tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa kamu tidak pergi!" Pak Junet mengepalkan tangannya.
Berlahan Bu Parti beringsut dari tempat duduknya. Dia bangkit dan menuju lemari baju di pojok kamar.
Dengan bersungut-sungut dia kemasi bajunya, lantas berlalu dari hadapan suaminya tanpa sepatah kata.
"Perempuan tidak tau diri! Sudah dikasih enak masih ingin yang lain, dasar!" Pak Junet kembali menendang meja kecil di dekatnya. Setelah menatap keseluruh sudut kamar, lalu dia keluar kamar.
Pak Junet menghempaskan diri ke kursi di ruang depan, wajahnya masih tampak memerah karena amarah.
"Kenapa ini terjadi padaku...!!!" Geram suara Pak Junet dengan menjambak rambutnya sendiri. Dia lantas menyambar bungkus rokok yang tergeletak diatas meja.
"Korek sialan!" Duer. Dibantingnya korek gas ditangan yang sudah habis isinya kelantai dan terdengarlah bunyi ledakan, Pak Junet pun berjingkat karena kaget sendiri.
"Huuuuuuh!" Kakinya dijejakkan kelantai, dia membanting bungkus rokok lalu pergi ke ruang dapur.
Sementara jauh di luar rumah Pak Junet, Bu Parti tampak kebingungan harus kemana.
"Aku harus kemana? Apa ke rumah Ibu saja?!" Bu Parti tampak terdiam sebelum dia memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Karena pertengkaran tersebut, kini keduanya berpisah. Mereka tidak tinggal seatap dan hal itu sudah berlangsung selama 3 hari.
"Parti.., sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan suamimu?" Tanya Ibunya Bu Parti.
"Tidak ada masalah apa-apa kok Bu," Kata Bu Parti yang lantas menundukkan wajahnya.
"Kalau tidak ada masalah apa-apa kenapa kamu pergi dari rumah?" Suara sang Ibu pelan.
"Aku tidak pergi dari rumah kok," Jawab Bu Parti.
"Kalau tidak pergi dari rumah, kenapa suamimu mencarimu?
Sebenarnya ada masalah apa antara kalian?" Kata Ibunya Bu Parti sambil menyulam kain sarung yang robek. Bu Parti terdiam, ingin dia mengatakan yang sebenarnya tapi malu.
"Kok Ibu tau kalau mas Junet mencariku? Ibu tau dari mana," Bu Parti menatap Ibunya.
"Tadi.. waktu Ibu ketempat pak Somad, Ibu ketemu sama suamimu, dan dia menanyakan dirimu," Kata Ibunya Bu parti.
"Terus mas Junet ngomong apa saja ke Ibu?" Tanyanya.
"Dia bilang kalau kamu disuruh pulang kerumahnya," Kata Ibunya lagi.
"Tidak mau, aku tidak mau pulang kalau mas Junet tidak menjemputku," Kemudian Bu Parti beranjak dari tempat duduknya dan entah pergi kemana.
"Oh.. diajak ngomong kok malah pergi," Suara Ibunya Bu Parti, beliau terus menyulam kain sarung tersebut.
Beberapa hari kemudian, Pak Junet menjemput Bu Parti yang berada di rumah orang tuanya.
"Bu, maafkan aku. Sekarang mari kita pulang ke rumah," Kata Pak Junet.
"Tidak mau, bapak sudah jahat padaku, bapak sudah menampar dan mengusirku, bapak kan mau menceraikanku," Kata Bu Parti.
"Kan aku sudah minta maaf tadi, ayo dong Bu," Kata Pak Junet.
"Enak sekali minta maaf. Sakit pak, sakit!
Sakitnya pipi tidak seberapa pak, tapi sakitnya yang disini ini!" Ucap Bu Parti sambil menunjuk ke dadanya. Wajah Pak Junet menunduk, dia pun terdiam. Sekian.
0 Response to "~ Cerpen: Sakitnya Itu Disini Pak! ~"
Posting Komentar