"Wew... dasar semprul!" Semua sms dari Yuli langsung kuhapus. Klik disini. <== (episode 43 yang lalu). Hari itu adalah Rabu pagi. Dengan berpakaian rapi dan membonceng si Jhon. Aku menuju ketempat kerjanya si Jhon. "Kamu tunggu disini Zack, nanti kamu masuk saja ke ruang itu. Nanti di ruang itu kamu akan diberikan pengarahan dulu sebelum ditraining. Sekarang aku mau langsung ke ruang kerja," Kata si Jhon yang langsung pergi dari hadapanku. "Wew... rokok dan hpku tertinggal di rumah," Kataku, yang lantas melongo karena mulut yang terasa asem tidak ada penawarnya. Hp yang biasa aku buat main game guna mengurangi rasa jenuh pun tidak ada ditangan. Praktis aku cuma bisa tengak tengok seperti Monkey menyari makanan. "Wuih dia! "Ikut training juga ya mbak?" Tanyaku dengan senyum mengembang tentunya. Dia menoleh tapi tidak lekas menjawab pertanyaanku tadi, hingga aku pun mengulanginya lagi. "Iya, kok tau," Jawabnya."Ya taulah, kan pakaian kita sama, hitam putih," Aku mengulas senyum. "Emang kamu juga mau training?" Tanyanya. Aku mengangguk. "He'em, aku juga mau training. "Gak nanya," Dia tampak cuek saja. Aku terdiam sebentar, lalu aku sodorkan permen yang tinggal satu biji kepada dia. "Permen mbak, mau?" Kataku. "Udah tau kalau itu permen. Terima kasih," Ucapnya "Ya.. siapa bilang kalau ini biji salak. Mau tidak?" Kataku yang tidak mau meladeni sikap cueknya, karena memang aku ingin mengenalnya Coy! "Tidak ah mas. Makan permen begituan cuma bikin perut kembung. Lagian tidak bagus pagi-pagi makan permen," Kata dia yang mengulum senyum. "Oh, makan permen bisa bikin perut kembung ya? Ah, aku tidak percaya. Terus bagusnya makan apa di pagi seperti ini mbak," Tanyaku. "Tidak percaya ya sudah kok. "Wew.. malah bercanda. "Ngapain iiich. Emang penting, nanya-nanya nama," Suaranya terdengar centil ditelingaku, dan aku suka hal itu. "Gak penting kok, karena pasti kamu tidak akan memberitahukan namamu pada orang jelek sepertiku. Iya kan?" Dia tidak menjawab. Dia diam, lantas menoleh kepintu ruangan yang kemarin lusa di buat test. Terlihat beberapa orang berpakaian hitam putih masuk ke ruangan tersebut. "Itu pintunya sudah dibuka dan mereka pada masuk. Kamu kesana tidak?!" Kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Sementara aku pun langsung berdiri dan berjalan ke ruangan tersebut. * Setelah pengarahan yang berlangsung sekitar 15 menit itu selesai. Kemudian kami digiring menuju ruang produksi. Tapi kami tidak satu ruang, melainkan dibagi ke berbagai tempat. "Maaf mas, yang ini di apakan ya?" Tanyaku pada seorang pria yang setelah aku ketahui dia adalah seorang Leader Produksi. "Buang saja ke situ," Jawabnya, lantas dia pergi dari hadapanku. Tanpa berpikir panjang, aku pun membuang barang yang ada di hadapanku. "Lho mas, kok dibuang?! Itu kan tidak rejeck!" Suara seorang wanita yang sedari tadi berada di dekatku, tepatnya dia bertugas sebagai QC (Quality Control). "Maaf mbak, kata pak.. siapa tadi? Ini disuruh dibuang ke situ," Aku menjelaskan. "Pak Bagyo? Dia memang suka begitu kalau sama anak training mas..," Ujarnya. Aku pun manggut-manggut kecil, lalu aku melanjutkan aktifitas lagi. "Namamu siapa mas..," Tanya wanita itu. "Aku? Namaku Zacky. Kenapa mbak?" Aku memandangnya sebentar, lantas mengamati mesin yang lagi menderu dan membisingkan telinga. "Oh Zacky.., sepertinya kamu berasal dari Jawa ya mas? "Oh. Mbak Fatimah Jawa Tengah-nya mana mbak?" Tanyaku. "Sragen. Yo uwis mas, aku tinggal dulu ya. Nanti kapan-kapan dilanjut lagi," Dia pun berjalan meninggalkan tempat dimana aku berdiri. Setelah seharian berdiri di depan mesin, akhirnya jam pulang telah tiba. Karena tadi pagi aku berangkatnya bareng si Jhon, maka pulangnya pun harus sama si Jhon, pikirku. "Mana ini si Jhon? Hemmm," Aku menengok kesana kemari mencari si Jhon, tapi dianya tidak kelihatan. Yang tampak malah seorang lelaki berperawakan kurus dengan potongan rambut klimis berjalan kearahku. "Trainner ya?" Tanya lelaki itu setelah duduk di bangku yang juga aku duduki. "Iya mas," Jawabku. Dia kemudian mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya. "Rokok mas. Merokok tidak?" Kemudian dia menyulut rokoknya. Sementara aku mengangguk kecil 'kebeneran ini ada yang menawari rokok' pikirku. "Iya mas, terima kasih," Namun aku masih malau untuk mengambil rokok tersebut, padahal mulut terasa asem banget. "Silahkan. Santai saja..," Ucapnya enteng dengan menyodorkan bungkus rokok tadi. Sepertinya lelaki yang duduk di sampingku ini cukup gampang bergaul, kataku dalam hati. (bersambung ke episode 45 Klik Disini). |
Selasa, 14 Juli 2015
Novel
http://zackymadumoe.mywapblog.com/novel-cintaku-merintih-di-pulau-batam-e-16.xhtml
BalasHapus