~ novel: cintaku merintih di pulau batam (episode 44) ~

jembatan-barelang-img.jpg

"Wew... dasar semprul!" Semua sms dari Yuli langsung kuhapus. Klik disini. <== (episode 43 yang lalu).

Hari itu adalah Rabu pagi. Dengan berpakaian rapi dan membonceng si Jhon. Aku menuju ketempat kerjanya si Jhon.
Suasana hatiku berdebar-debar, karena sebentar lagi aku akan di training kerja di Perusahaan tempat si Jhon bekerja.
Hampir 30 menitan perjalananku dari rumah ke tempat training.

"Kamu tunggu disini Zack, nanti kamu masuk saja ke ruang itu. Nanti di ruang itu kamu akan diberikan pengarahan dulu sebelum ditraining. Sekarang aku mau langsung ke ruang kerja," Kata si Jhon yang langsung pergi dari hadapanku.
Dag dig dug itu pasti, karena selama ini aku belum pernah berkerja di Pabrik.
Sambil melihat para karyawan pabrik yang masuk ke area, aku menggagapi saku celana. Namun apa yang aku cari tidak aku temukan.

"Wew... rokok dan hpku tertinggal di rumah," Kataku, yang lantas melongo karena mulut yang terasa asem tidak ada penawarnya. Hp yang biasa aku buat main game guna mengurangi rasa jenuh pun tidak ada ditangan. Praktis aku cuma bisa tengak tengok seperti Monkey menyari makanan.
Aku terbelalak, tiba-tiba dadaku kembali dag dig dug. Tapi dag dig dug yang ini lain. Aku melihat cewek yang dulu ikut test itu berjalan ke arahku.

"Wuih dia!
Hemm, manis sekali cewek itu," Ucapku lirih. Benar saja, cewek itu kemudian duduk di dekatku, tapi tidak mepet kepadaku lho.
Sebelum aku menyapanya, terlebih dulu aku mempersiapkan diri, yakni mengunyah permen yang tadi dalam perjalanan diberikan oleh si Jhon padaku, karena memang mulutku suka bau meskipun sudah menggosok gigi dengan odol sebesar jempol jari, hehee.

"Ikut training juga ya mbak?" Tanyaku dengan senyum mengembang tentunya. Dia menoleh tapi tidak lekas menjawab pertanyaanku tadi, hingga aku pun mengulanginya lagi.

"Iya, kok tau," Jawabnya.

"Ya taulah, kan pakaian kita sama, hitam putih," Aku mengulas senyum.

"Emang kamu juga mau training?" Tanyanya. Aku mengangguk.

"He'em, aku juga mau training.
Perkenalkan, namaku Zacky," Kataku dengan semangat.

"Gak nanya," Dia tampak cuek saja. Aku terdiam sebentar, lalu aku sodorkan permen yang tinggal satu biji kepada dia.

"Permen mbak, mau?" Kataku.

"Udah tau kalau itu permen. Terima kasih," Ucapnya

"Ya.. siapa bilang kalau ini biji salak. Mau tidak?" Kataku yang tidak mau meladeni sikap cueknya, karena memang aku ingin mengenalnya Coy!

"Tidak ah mas. Makan permen begituan cuma bikin perut kembung. Lagian tidak bagus pagi-pagi makan permen," Kata dia yang mengulum senyum.

"Oh, makan permen bisa bikin perut kembung ya? Ah, aku tidak percaya. Terus bagusnya makan apa di pagi seperti ini mbak," Tanyaku.

"Tidak percaya ya sudah kok.
Pagi seperti ini enaknya makan gethuk, hik hiik," Dia malah terkikik.

"Wew.. malah bercanda.
Kamu namanya siapa?" Kemudian aku menggeser dudukku agak mendekat padanya.

"Ngapain iiich. Emang penting, nanya-nanya nama," Suaranya terdengar centil ditelingaku, dan aku suka hal itu.

"Gak penting kok, karena pasti kamu tidak akan memberitahukan namamu pada orang jelek sepertiku. Iya kan?" Dia tidak menjawab. Dia diam, lantas menoleh kepintu ruangan yang kemarin lusa di buat test. Terlihat beberapa orang berpakaian hitam putih masuk ke ruangan tersebut.

"Itu pintunya sudah dibuka dan mereka pada masuk. Kamu kesana tidak?!" Kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Sementara aku pun langsung berdiri dan berjalan ke ruangan tersebut.

*

Setelah pengarahan yang berlangsung sekitar 15 menit itu selesai. Kemudian kami digiring menuju ruang produksi. Tapi kami tidak satu ruang, melainkan dibagi ke berbagai tempat.
Layaknya orang tolol, aku mengikuti saja apa yang dikatakan oleh atasan.
Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan baru, akhirnya tiba juga waktu istirahat.
Aku langsung keluar dari ruang produksi dan mencari si Jhon, namun tidak ketemu. Akhirnya aku tidak merokok lagi deh, padahal mulut terasa asem banget.
Aku menyandarkan punggungku pada tembok pabrik, dengan pikiran mengingat cewek tadi pagi yang belum sempat aku ketahui namanya.
Belum juga hilang rasa capekku, bell masuk sudah berbunyi. Aku kembali masuk ke ruang produksi dan menjalankan mesin lagi, karena memang aku ditraining di situ.
Sebagai seorang yang ditraining, tentu aku ada banyak pertanyaan yang memang aku belum tau.

"Maaf mas, yang ini di apakan ya?" Tanyaku pada seorang pria yang setelah aku ketahui dia adalah seorang Leader Produksi.

"Buang saja ke situ," Jawabnya, lantas dia pergi dari hadapanku. Tanpa berpikir panjang, aku pun membuang barang yang ada di hadapanku.

"Lho mas, kok dibuang?! Itu kan tidak rejeck!" Suara seorang wanita yang sedari tadi berada di dekatku, tepatnya dia bertugas sebagai QC (Quality Control).
Aku terbengong, kemudian cepat-cepat aku ambil barang yang tadi aku masukkan ke tempat sampah.

"Maaf mbak, kata pak.. siapa tadi? Ini disuruh dibuang ke situ," Aku menjelaskan.

"Pak Bagyo? Dia memang suka begitu kalau sama anak training mas..," Ujarnya. Aku pun manggut-manggut kecil, lalu aku melanjutkan aktifitas lagi.

"Namamu siapa mas..," Tanya wanita itu.

"Aku? Namaku Zacky. Kenapa mbak?" Aku memandangnya sebentar, lantas mengamati mesin yang lagi menderu dan membisingkan telinga.

"Oh Zacky.., sepertinya kamu berasal dari Jawa ya mas?
Namaku Fatimah, aku juga berasal dari Jawa, tepatnya Jawa Tenga," Kata dia.

"Oh. Mbak Fatimah Jawa Tengah-nya mana mbak?" Tanyaku.

"Sragen. Yo uwis mas, aku tinggal dulu ya. Nanti kapan-kapan dilanjut lagi," Dia pun berjalan meninggalkan tempat dimana aku berdiri.

Setelah seharian berdiri di depan mesin, akhirnya jam pulang telah tiba. Karena tadi pagi aku berangkatnya bareng si Jhon, maka pulangnya pun harus sama si Jhon, pikirku.
Aku duduk di tempat dimana biasanya para karyawan istirahat kerja.
Aku menggeliat guna mengendorkan syaraf-syaraf otot yang kaku setelah setelah seharian berdiri. Aku sandarkan tubuhku ke dinding bangunan pabrik.
Kulihat ada beberapa karyawati melintas di depanku. Mereka sepertinya tersenyum padaku, namun aku tidak menghiraukannya karena lagi merasakan kelelahan.

"Mana ini si Jhon? Hemmm," Aku menengok kesana kemari mencari si Jhon, tapi dianya tidak kelihatan. Yang tampak malah seorang lelaki berperawakan kurus dengan potongan rambut klimis berjalan kearahku.

"Trainner ya?" Tanya lelaki itu setelah duduk di bangku yang juga aku duduki.

"Iya mas," Jawabku. Dia kemudian mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya.

"Rokok mas. Merokok tidak?" Kemudian dia menyulut rokoknya. Sementara aku mengangguk kecil 'kebeneran ini ada yang menawari rokok' pikirku.

"Iya mas, terima kasih," Namun aku masih malau untuk mengambil rokok tersebut, padahal mulut terasa asem banget.

"Silahkan. Santai saja..," Ucapnya enteng dengan menyodorkan bungkus rokok tadi. Sepertinya lelaki yang duduk di sampingku ini cukup gampang bergaul, kataku dalam hati.
Dengan agak malu aku terima tawarannya. Ku ambil sebatang rokoknya lalu menyulut rokok tersebut. Sambil menikmati rokok, kami berbincang dengan topik bebas tapi terkendali.
Aku lihat si Jhon muncul dari balik bangunan pabrik. Dia menghampiriku dan mengajak pulang.

(bersambung ke episode 45 Klik Disini).

Klik ini dong kang mas, diajeng!

1 Response to "~ novel: cintaku merintih di pulau batam (episode 44) ~"

  1. мαdυмσє вlσg14 Juli 2015 pukul 06.49

    http://zackymadumoe.mywapblog.com/novel-cintaku-merintih-di-pulau-batam-e-16.xhtml

    BalasHapus