~ novel: cintaku merintih di pulau batam (episode 41) ~

p

"Aku pulang dulu mas. Nanti aku minta lagi yang begituan," Dia melangkah keluar rumah, aku terbengong dan garuk-garuk kepala. Dalam hatiku berkata, lumayanlah buat mengobati kegersangan ini. Klik disini <== (episode 40 yang lalu).

Aku merenung sendiri di ruang tengah rumahnya si Jhon sambil berbaring. Apa yang barusan aku lakukan sama Nur telah membuatku seperti ketagihan.
Jujur, aku belum pernah melakukan seperti hal tadi terhadap wanita manapun, meski kata teman-teman aku termasuk lelaki play boy.
"Huff, Nur.. Nur. Kenapa hal itu terjadi? Kini aku seperti ini dan rasanya ingin mengulangi lagi," Kataku lirih. Aku membalikkan badan, ku ambil hp yang tergeletak di meja. Aku buka menu game pada hp tersebut guna mengusir pikiranku yang mulai ngeres.
"Ugh kena kamu," Suaraku ketika tembakanku mengenai musuh.
Tit tit tit, bunyi saat sms masuk. Aku buka, ternya sms dari si Nur.
"Mas, aku ke tempatmu lagi ya," Bunyi sms tadi.
"Memang kamu tidak membantu Ibumu di warung?" Balasanku.
"Membantu sih, tapi aku kan bisa bilang kalau aku mau ke rumah temanku cewek. Aku ke tempatmu ya mas," Sms darinya lagi.
"Kalau itu maumu ya silahkan. Jangan lupa bawa es teh ya, hehee," Gurauku. Tidak perlu waktu lama, Nur sudah tiba di rumah si Jhon. Dia berdiri di depan pintu dengan pakaian yang berbeda dari tadi.
Tok tok tok, "Ini aku mas," Seperti suara si Nur.
"Langsung masuk saja," Kataku.
"Lagi apa mas?" Dia tersenyum, lantas duduk disampingku.
"Ini lagi menunggu bidadariku yang cantik," Jawabku.
"Wuidih, bidadari. Siapa tuh bidadari yang ditunggu?" Kata dia, lalu menyenggol tubuhku.
"Siapa ya? Ada deh," Aku memandangnya dengan perasaan ser serran.
"Siapa hayo..? Eh mas, mas Febrinya kemana?" Nur menoleh kearah pintu kamar.
"Dia masih tidur, biasanya dia bangun menjelang Ashar. Kenapa memang," Kupandangi dirinya yang ternyata memang cantik.
"Tidak kenapa-kenapa, tanya saja.
Mas...," Dia menjatuhkan kepalanya ke pundakku.
"Oh, kirain ada apa. Iya ada apa," Diriku kian dag dig dug kepadanya.
"Mas..," Suara dia yang mulutnya sangat dekat ditelingaku. Hembusan nafasnya menerpa ruang telingaku dan semakin membuatku merinding saja.
Seperti halnya tadi, dia mengelus lengan sampai ke punggung telapak tanganku, lalu meremas jemariku dan menggenggamnya. Darah mengalir deras menjalar keseluruh tubuhku.
Aku memandang wajahnya, kemudian aku pegang dagunya. Selanjutnya bibir kami beradu, saling pagut dan kulum. Kami menikmati hal itu tidak sebentar, sampai akhirnya terdengar bunyi 'Kluthak-kluthak' dan langkah seseorang di luar rumah. Kami melepaskan pagutan, kami diam dan saling pandang. Aku bergegas menengok ke luar, ternyata hanya seorang pemulung yang lagi mencari barang bekas ditempat sampah.
"Siapa mas?" Tanya si Nur.
"Anu, pemulung," Kembali aku duduk disampingnya. Aku matikan hpku, karena aku takut kalau-kalau Dewi atau Yuli mengirim sms ke nomerku.
"Kenapa hpnya dimatikan mas?" Tangan dia meraih hp ditanganku.
"Anu, batterai low batt, dan charge-nya lagi rusak," Kataku.
"Oh. Ya pakai charge kepunyaan mas Jhon lah mas," Kata dia.
"Merk hp kami beda kok, jadi charge kepunyaan si Jhon tidak bisa dipakai di hp ini," Aku menatap Nur, sebentar kemudian malah aku yang aktif mengelus tangan dia.
"Ya nanti di belikan charge mas, murah kok harganya kalau bukan yang asli," Kata dia. Kulihat dia seperti menikmati elusanku, sebentar-sebentar dia terlihat merem melek dan sesekali bibirnya di gigitnya.
"Iya nanti kalau sudah kerja aku belikan charge," Kataku yang terus mengelus tangannya.
Karena aku tidak tahan lagi dengan nafsu yang sedari memuncak. Aku pun kembali mendaratkan ciumanku ke wajahnya.
Aku melumat bibirnya, kami saling pagut, saling meremas tangan sampai akhirnya ciumanku turun kelehernya.
Kami sama-sama mendesah, melenguh dalam pacuan hasrat.

Waktu terus berpacu, seperti halnya kami yang lagi memacu gejolak hasrat.
Tanpa sadar, tanganku sudah beralih di dada si Nur. Nafasnya kian tersengal ketika tanganku bermain-main disana.
"Mas... aku gak tahan," Suaranya dan membuatku kian liar. Aku terus bermain disana hingga kancing bajunya pun terlepas.
Klethek klethek ngiiiiiik, derit pintu kamar seperti dibuka. Aku terperanjak, bergegas aku melepaskan aksiku. Aku beringsut mundur, kemudian kulihat mas Febri muncul dari balik pintu kamarnya. Dengan cepat juga Nur menutupi dadanya dengan menekuk kakinya, bersedekung dan badan di bongkokkan.
"Sudah bangun mas?" Tanyaku pada mas Febri.
"Emm iya. Masih disini Nur?" Kata mas Febri.
"Iya mas," Nur terlihat malu.
Mas Febri langsung kebelakang, sebentar kemudian balik dan langsung masuk ke kamarnya lagi. Kami saling pandang, lalu cekikikan ditahan.

Ingin aku dan Nur melakukannya lagi, tapi ada rasa takut ketahuan mas Febri yang tadi sudah bangun dari tidurnya.
"Emm, Nur, kamu kok pandai banget ngelakuin seperti tadi," Tanyaku.
"Masa sih? Biasa aja kale. Emang kamu belum pernah melakukan sebelumnya ya mas," Nur memandangku dengan bibir digigitnya.
"Belum sih. Iya Nur, sepertinya kamu pengalaman banget," Aku pandang bibirnya, dan hemm.. ingin aku menggigitnya.
"Pengalaman dikit," Kata dia.
"Pengalaman sama siapa emangnya," Tanyaku.
"Ada deh, mau tau aja," Katanya genit.
"Ah kamu. Ya udah kalau gak mau ngasih tau," Aku mengambil sebatang rokok pemberian Nur.
"Pengalaman sama pacar, dulu," Dia merapatkan tubuhnya lagi ke tubuhku.
"Oh, kirain pengalaman dari seringnya nonton drama romance, hahaa," Asap rokok membumbung lantas tertiup angin.
"Iya juga sih mas," Aku lihat dia menaikkan tangan ke dadanya.
"Iya sering nonton drama romance?" Aku jadi deg deg gan saat kulirik bagian dadanya yang sudah terbuka kancingnya itu.
"Mas..," Suara dia yang lantas memejamkan matanya.
"Iya," Dia diam dalam pejam. Aku bermaksud ingin memanjakan bibirku ke dadanya, namun sayang.. pintu kamar mas Febri kembali berderit dan aku urungkan niatku. Aku buru-buru mundur, begitu juga dengan Nur, dia buru-buru menutup area yang tadi dibukanya.
"Ehem ehem," Mas Febri berdehem. Dia keluar kamar dan duduk di dekat kami. Aku dan Nur terdiam sebentar.
"Sudah bangun lagi mas," Tanyaku pada mas Febri.
"Iya Zack, udah gak bisa merem lagi ini," Dia menatap kami sebentar, lalu dipencetnya tombol TV.
"Sialan," Kataku dalam hati. Kulihat Nur malah senyum-senyum saja.
"Anu mas, aku pulang dulu ya, pasti Ibu mencariku," Kata Nur.
"Kok pulang toh Nur," Suara mas Febri.
"Iya..," Kataku.
"Kan aku udah dari tadi disini, hik hiik. Aku pulang dulu mas, permisi," Nur langsung cabut pulang. Aku menghisap rokokku yang udah hampir habis dengan mata mengikuti langkahnya.
"Besuk kamu training kerja kan Zack?" Mas Febri bertanya padaku.

(bersambung ke episode 42 Klik disini).

Klik ini dong kang mas, diajeng!

1 Response to "~ novel: cintaku merintih di pulau batam (episode 41) ~"

  1. мαdυмσє вlσg6 Juli 2015 pukul 09.51

    http://zackymadumoe.mywapblog.com/novel-cintaku-merintih-di-pulau-batam-e-13.xhtml

    BalasHapus