"Besuk kamu training kerja kan Zack?" Mas Febri bertanya padaku. Klik disini. <== (episode 41 yang lalu).
"Iya mas besuk aku training," Aku menyalakan hpku.
"Ya baguslah. Oh iya Zack, kamu dapat salam dari Dhita," Kata mas Febri.
"Dhita? Dhita siapa mas," Aku memandang mas Febri yang tampak lucu juga menurutku, sama seperti si Jhon.
"Dhita pacarku," Dia mengencangkan volume TV.
"Lho kok?" Aku bengong.
"Iya, maksudnya dia menanyakanmu," Kata dia.
"Oh..," Suaraku menanggapi kata mas Febri barusan, kemudian aku asik bermain game.
Sejak pertama aku tiba di Batam dan tinggal di rumah si Jhon, baru kali ini aku berbincang-bincang panjang lebar dengan mas Febri.
Selama ini mas Febri cuma sebentar-sebentar saja ngobrol sama aku dan kesannya bagaimana gitu.
"Kamu udah punya pacar ya Zack?" Tanyanya dia.
"Belum mas, kenapa mas," Jawabku dengan menoleh kepadanya.
"Tidak kenapa-kenapa kok. Nanti di Batam ini kamu bisa mencari pacar sebanyak-banyaknya, hehee," Kata dia.
"Emm, emang cewek-cewek disini mudah dipacari ya mas," Aku kembali mengambil batang rokok.
"Begitulah. Tapi tergantung orangnya juga sih. Emm nanti kamu bisa membuktikannya sendiri, apalagi kamu cukup ganteng," Ujar mas Febri.
"Aku ganteng? Hahaa, biasa saja kok mas.
Tapi aku penasaran dengan katamu tadi lho mas," Ku sulut ujung rokok dibibir, dan bul.. asap mengepul.
"Hehee, nanti kamu bisa membuktikannya," Kata dia.
"Kalau begitu, pacar kamu banyak dong mas," Aku tersenyum.
"Tidak juga, cukup bebera koleksi saja Zack, hahaa," Dia malah ketawa.
"Wuidih, sampai dikoleksi gitu, berarti banyak dong. Kirain pacarmu cuma Dhita itu saja mas," Aku meneruskan permainan di hpku.
"Hahaa. Dhita itu cuma aku jadikan serep kok Zack," Kata dia.
"Lho kok serep?" Aku sedikit gak percaya kalau cewek bernama Dhita itu cuma dijadikan pacar serep atau cadangan oleh mas Febri, karena Dhita teramat cantik dan pastinya kebanyakan cowok akan menjadikannya seorang yang istimewa.
"Maksudku, dia itu serep dari istriku, hahaa, gak mudheng ya?" Dia malah tertawa lagi.
"Maksudnya gimana sih mas? Aku gak faham," Aku mengernyitkan kening yang berbisul, dan terasa sakit.
"Aku ini sudah beristri, Dhita cuma aku jadikan penghibur saja," Ujarnya dia.
"Oh.. mas Febri sudah beristri toh? Lalu istrimu dimana?" Aku manggut-manggut.
"Istriku ada di kampung," Kemudian dia berdiri dan pergi kebelakang. Aku senyum-senyum sendiri, dalam hatiku berkata 'Pantesan kemarin dia indehoi di dalam kamar dan terdengar suara lenguhan nikmat'.
Sebentar lagi sore. Mas Febri tidak ada di rumah, entah pergi kemana dia. Sebentar lagi si Jhon pulang kerumah, dan pasti suasana akan ramai kalau Jhon berada di rumah, ujarku.
"Eh Zack, tempat kita hujan tidak? Disini hujan lebat. Tolong pakaianku kamu masukkan ya. Nanti aku pulangnya malam, habis pulang kerja aku mau menyumbang ke rumah teman," Sebuah sms dikirim oleh si Jhon.
"Disana sudah hujan ternyata," Aku langsung membalas sms si Jhon. Karena aku lihat langit memang mendung, aku pun bergegas memasukkan jemuran yang berada disamping rumah.
Aku sandarkan tubuh ke dinding rumah. Aku pandangi seluruh ruangan dimana aku berada, dan serasa sepi.
"Nur, ya Nur! Mumpung sepi gak ada orang nih," Kataku. Tiba-tiba saja muncul keinginan untuk memanggilnya.
Dengan gerakan cepat, aku mengirim sms ke Nur.
"Nur, kamu bisa ke rumah tidak? Mas Febri tidak ada di rumah, sementara si Jhon nanti pulangnya malam, dia mau nyumbang ketempat temannya," Smsku pada Nur.
"Bisa. Benarkah di rumahmu gak ada siapa-siapa mas?" Sms dari Nur.
"Iya. Cepat datang ya," Kataku.
"Iya mas," Kata Nur.
Tidak lama kemudian datanglah Nur dengan membawa payung, karena gerimis sudah turun.
Tot tok tok "Ini aku mas, Nur," Suara di luar rumah.
"Masuk saja," Kataku. Nur pun langsung masuk kedalam rumah.
"Ada apa mas?" Tanya dia padaku.
"Ada sesuatu," Jawabku.
"Sesuatu? Sesuatu apa," Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi aku langsung mendekap tubuhnya. Aku langsung menyambar bibirnya dengan beringas. Entahlah, nyatanya aku tidak mampu untuk mengendalikan gejolak yang ada.
Aku dan Nur terus berpacu dalam alunan hasrat. Kami saling melepaskan apa yang berkecamuk. Kami sama-sama merasakan hal itu. Mendadak aku mundur ketika aku hampir menyentuh pada sebuah larangan yang terlalu dalam. Karena biar bagaimanapun aku tidak ingin terjadi pengrusakan pada sesuatu yang belum tentu untuk diriku.
"Kenapa mas?" Kata dia pelan.
"Tidak kenapa-napa kok," Lantas aku menghempaskan tubuhku kelantai berkarpet. Aku diam, aku pandangi wajah cewek dihadapanku tersebut. Tampak wajah Nur menyiratkan sebuah pertanyaan atas tindakanku tadi.
"Kenapa tidak diteruskan mas," Suara dia.
"Tidak, aku tidak berani melakukannya lebih jauh Nur," Kataku.
"Tidak apa-apa kan mas. Lagian aku rela kok," Kata dia.
"Tidak tidak, aku tidak akan melakukannya. Benahi bajumu Nur," Aku terpejam, aku menarik nafas dalam-dalam. Nur kemudian duduk disampingku.
"Benar kok mas, aku akan memberikannya padamu," Suaranya dia membuatku tajam menatapnya.
"Benarkah Nur?" Kataku.
"Iya mas..," Jawab dia.
"Tapi tidak sekarang Nur, nanti saja kalau kita sudah hidup bersama ya," Kataku. Nur terdiam, dia menatapku kecut. Mungkin ada rasa kecewa pada dirinya. Namun biar bagaimanapun aku masih menjaga batas-batas larangan yang kalau aku terjang maka aku bisa terseret pada bergelimangannya dosa.
Nur menatap tajam padaku. Entahlah, kini aku merasa malu sendiri untuk membalas tatapan tajamnya.
"Ada apa denganmu mas..? Apa aku membuatmu tidak selera," Kata dia.
"Bukan tidak selera Nur, tapi aku takut untuk terlalu jauh," Kataku.
"Kan aku sudah rela mas. Aku akan menyerahkan semuanya padamu kok. Ayolah mas, kita teruskan lagi," Kata-kata dia membuat nafsuku seperti bangkit lagi, namun kucoba menahannya.
"Iya, terimakasih untuk itu," Gludak! Phonselku tersampar tangan dan jatuh.
"Hpmu mas! hik hik hiik," Dia malah terkekeh karena kesing hpku menjelat lepas.
"Wehalah, dasar hp jadul!" Gerutuku. Aku pungut kesing yang terlepas, aku pasang dan kunyalakan, eh tidak mau hidup.
"Gak hidup ya mas? Ganti aja mas," Kata dia dengan wajahnya mendekat ke wajahku.
"Iya nih. Kalau sudah begini susah untuk hidupnya," Kataku.
"Sebentar lagi juga hidup mas," Tangannya dia menempel disatu pipiku, lantas dia malah menciumku dan bibirnya menggapai bibirku.
"Sudah ah Nur," Kataku.
"Emmm," Dia malah mengulum dan menarik-narik bibirku, sepertinya dia nafsu banget saat itu. Aku tidak meladeninya meski aku tidak menarik wajahku dari pepetan wajahnya. Biarlah dia memuaskan dirinya, kataku dalam hati.
"Ahhh, kenapa kamu diam saja sih mas, ichhh," Nur mencubitku.
"Aow sakit," Aku memandangnya, begitu juga dengan dia. Kami kemudian sama-sama tertawa.
"Ya sudah mas, kalau kamu tidak mau ya aku pulang saja," kata dia.
"Ya jangan, temani aku dulu," Kataku.
"Tapi kamu tidak mau begituan lagi kok. Aku pulang ah, emmmuaaachhh," Dia menciumku lantas benar-benar meninggalkan aku.
(bersambung ke episode 43 Klik disini)
http://zackymadumoe.mywapblog.com/novel-cintaku-merintih-di-pulau-batam-e-14.xhtml
BalasHapuswah ada adegan dewasanya nih hehwhe
BalasHapus@Ramadh4NZ,
BalasHapusAdegan buat bumbu saja, hahaa.
waduhh, sebenarnya cerita ini untuk 18+, kata-katanya itu lho yang Ehem-EhemKeren.
BalasHapusOiya kayaknya aku pernah lihat cerita ini, dilanjut lagi gan?
@Bahrian Adhi Prasetyo,
BalasHapusEmang lihat dimana cerita seperti punyaku? Lihat di episode sebelumnya? Hehee.
seru jga nih novel nya,
BalasHapusagan kyaknya bakat jadi penulis
lahhh itu si nur cewe apaan.. gampangan banget
BalasHapuskurang paham gan sama alur cerita nya hmmmm, MENDING KE 41 dulu deh
BalasHapus@k0k0h,
BalasHapusSilahkan gan di telusuri yang ke 41-nya.
@Iman Nurjaman,
BalasHapusNamanya juga cewek ngebet sama yang disukainya gan. Lagian dia juga lama tidak punya cowok, hehee.
@Iqbal Gamers,
BalasHapusTerima kasih gan. Semoga saja menjadi penulis yang baik ya gan. Aamiin.