Istriku Pembunuh Pacarku.
Dimalam itu Amelia tampak mondar-mandir di kamarnya. Wajahnya menunjukkan kegusaran teramat sangat.
Bagaimana tidak? Amelia baru saja di telepon oleh temannya yang mengatakan kalau Roy lagi berduaan dengan perempuan lain.
Karena kabar tersebut,Amelia jadi tidak bisa tidur. Sudah dicobanya membaringkan badan dan memejamkan mata,tapi apa yang dikatakan oleh temannya tadi telah mengusik pikirannya.
Dengan cepat Amelia menyambar phonsel yang tergeletak disampingnya.
"Hallo Joy,aku masih belum percaya dengan katamu tadi" suara Amelia.
"Kenapa tidak percaya? Apa kamu mau bukti?" jawab Joy.
"Ya Joy. Kalau bisa,kamu antarkan aku ketempat yang kamu katakan tadi" suara Amelia.
"Ok. Sebentar aku ketempatmu" kemudian Joy menutup pembicaraannya dengan Amelia.
Dengan mengendarai sedan Timor,Joy meluncur ketempat Amelia. Tidak lama kemudian Joy sampai di rumah Amelia.
"Aku telah sampai di depan rumahmu Lia" kata Joy via phonsel.
Amelia menyibakkan tirai jendela,dilihatnya sedan Timor milik temannya itu sudah di depan pagar rumah. Bergegas Amelia keluar dari rumah dan mengunci pintunya.
"Ok Joy,kita berangkat sekarang" kata Amelia.
"Ok" mereka pun meluncur ketempat yang sebagaimana dikatakan oleh Joy.
"Mampus kamu Lia! Kamu kena sekarang!" kata Joy dalam hati. Sementara itu,Amelia tidak menyadari bakal ada bahaya mengancam dirinya.
Joy kemudian mengetikkan sesuatu pada phonselnya dan mengirimkannya pada seseorang.
"Korban telah kudapat,kamu bersiap ditempat menjalankan tugas" bunyi pesan dari Joy pada seseorang.
Wajah Amelia menegang ketika Joy mengatakan sudah sampai ditempat.
"Mana mereka Joy?" tanya Amelia.
"Sebentar Lia. Nah itu ada bayangan orang,pasti itu mereka yang belum pergi" kata Joy. Mereka kemudian keluar dari mobil dan mendekat kesebuah bangunan tidak jauh dari tempat itu.
"Mana Joy?" tanya Amelia. Tiba-tiba datang sekelebat bayangan orang dan langsung menyergap Amelia. Orang tersebut membungkam mulut Amelia dengan kain yang sudah dilumuri obat bius.
Amelia meronta sebentar sebelum akhirnya terkulai dan tidak sadarkan diri.
"Kita apakan dia boss" tanya seorang lelaki berpakaian serba hitam pada Joy.
"Bunuh saja didalam sana" kata Joy sinis.
"Baik boss" tanpa menunggu lama,lelaki tersebut membawa tubuh Amelia masuk kedalam bangunan di depannya. Pintu dibukanya,tubuh Amelia dihempaskan ke lantai.
Lelaki itu menghunus dan menghujamkan pisau belati ditangannya ke tubuh Amelia berulang kali. Setelah puas,lelaki tadi keluar dari bangunan itu dengan wajah menyeringai.
"Bagaimana dengan dia?!" suara Joy pada lelaki tadi.
"Beres boss,dia sudah mampus!" kata lelaki tersebut sambil mengelap tangannya.
"Bagus. Ayo kita cabut dari sini sebelum di lihat orang" keduanya masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan tempat tersebut.
Naas benar nasib Amelia di malam itu. Dia yang hendak membuktikan omongan Joy,malah di habisi oleh orang suruhan Joy.
Joy bisa setega dan sekeji itu hanya karena dia ingin memiliki Roy (pacarnya Amelia). Joy sudah berulang kali mengatakan kalau dirinya mencintai Roy,tapi Roy menolaknya dengan alasan dia sudah punya Amelia dan tidak akan mencintai wanita lain selain Amelia.
Ungkapan rasa cinta mendalam yang dibalas dengan penolakan demi penolakan Roy pada Joy itulah yang menyebabkan dia gelap mata dan pada akhirnya merencanakan pembunuhan terhadap Amelia.
Sesampai di rumahnya Joy tertawa terbahak penuh kemenangan. Suaranya sampai membahana seakan meruntuhkan dinding dan tiang beton rumahnya.
"Ini bagianmu. Ingat,jangan dibocorkan pada siapapun kejadian tadi. Kalau sampai hal ini bocor,maka kepalamu akan terlepas dari tubuhmu!" suara Joy dengan memberikan amplop tebal berwarna cokelat ke lelaki di dekatnya.
"Beres boss,aku akan menjaga rahasianya. Sekarang aku cabut dulu boss.
Oh iya boss,hubungi aku lagi kalau ada job baru" lelaki itu langsung melangkah meninggalkan Joy.
Joy menghempaskan tubuhnya diatas soffa. Dia kemudian memutar lagu kesukaannya pada player yang tergeletak tidak jauh darinya. Sedikitpun tidak ada penyesalan diraut muka Joy atas perbuatannya.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian pembunuhan Amelia di tempat itu. Orang-orang sekitar tempat tersebut menjadi geger karena pememuan sosok mayat perempuan dengan luka tusuk di beberapa bagian tubuhnya.
Mereka menjadi gempar,hingga kabar itupun sampai ditelinga Roy.
Hati Roy terasa disayat-sayat ketika dia tau bahwa sosok mayat itu adalah Amelia.
Dengan bantuan aparat penegak hukum,Roy melacak siapa yang telah membunuh Amelia,tapi usaha Roy masih gelap,belum menemukan titik terang siapa pembunuh kekasihnya tersebut.
Sementara itu,dengan segala upaya akhirnya Joy berhasil mendapatkan cintanya Roy,bahkan mereka sampai kepelaminan.
Pada suatu hari Roy tersentak kaget saat sayup-sayup dia mendengar pembicaraan istrinya (Joy) dengan seseorang via phonsel,karena dalam percakapan itu mereka membicarakan Amelia yang telah dibunuhnya.
"Sudah sudah,hubungan perkenalan kita cukup sampai disini. Sekarang Roy sudah menjadi suamiku,aku tidak mau lagi membicarakan pembunuhan Amelia itu" suara Joy dengan orang yang pernah disuruhnya agar menghabisi nyawa Amelia,kemudian Joy menutup pembicaraan tersebut.
Bergegas Roy menghampiri istrinya.
"Apa aku tidak salah dengar tadi ma? Mama yang telah membunuh Amelia?" suara Roy pada istrinya. Joy tampak gelagapan sebentar sebelum dia menutupinya dengan senyuman manis pada Roy.
"Siapa bilang pa? Papa salah dengar kali.
Oh iya pa,kita jadi jalan-jalan kan?" kata Joy pada suaminya. Roy diam sebentar dengan menatap tajam pada Joy.
"Jadi ma,tapi tolong buatkan aku minuman biasanya dong,sekarang" kata Roy. Joy memandang suaminya,lalu tersenyum pada Roy.
"Ok papa sayang.." suara Joy,dia meletakkan phonselnya dan melangkah ke dapur.
Dengan cepat tangan Roy menyambar phonsel milik istrinya. Dia langsung mencari nomer yang barusan menelpon Joy. Setelah itu dia mencatat dan menghubungi nomer tersebut.
Roy memperkenalkan diri pada orang yang ditelponnya. Setelah itu Roy mepertanyakan perihal pembunuhan Amelia. Jelas saja orang itu tidak mengaku,namun setelah Roy berjanji mau memberikan uang 10x lipat dari uang yang pernah di berikan oleh Joy dan Roy tidak akan melaporkannya pada Polisi,akhirnya orang tersebut bercerita dan mengakuinya kalau kematian Amelia adalah atas perintah Joy kepadanya.
"Ini papa sayang minumannya" kata Joy.
"Terimakasih,letakkan saja.
Mama,sekarang aku sudah tau siapa pembunuh Amelia,dan itu adalah kamu Ma!" suara Roy dengan keras.
"Jangan ngaco kamu pa,mana buktinya" suara Joy.
"Buktinya? Orang yang kamu suruh untuk membunuh Amelia sudah mengaku kepadaku barusan.
Ternyata kamu tega melakukan hal itu pada sahabatmu sendiri Ma!
Kamu harus mempertanggung jawabkan atas perbuatanmu Ma.
Kita ke kantor Polisi sekarang!" suara Roy dengan kekalutan dan emosinya.
"Tapi pa" suara Joy.
"Tidak ada tapi-tapian!" Roy langsung menarik tangan Joy. Keduanya menuju ke kantor polisi terdekat.
Roy menceritakan semuanya pada Polisi. Joy pada akhirnya mengakui kalau dialah otak pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pria.
Joy kemudian ditahan,sementara itu pihak berwajib langsung melakukan gerakan cepat memburu si pria tersangka suruhan Joy.
Roy sendiri tampak lemas,dia tidak pernah menyangka sebelumnya kalau pembunuh pacarnya adalah istrinya,Joy. SEKIAN.
Cerita Fiktif.
Penulis Cerita: мαdυмσє
http://zackymadumoe.mywapblog.com/cerpen-istriku-pembunuh-pacarku.xhtml
BalasHapusCerpen Lagi ya...Hmmm Lgi males baca saya :-D
BalasHapusNgikut UP Aja :-D
Cerpennya bagus sob. Kasihan itu Roy yang harus mengalami kejadian tersebut. Pacarnya di bunuh,yang membunuh malah menjadi istrinya. Baguslah itu Roy,meski Joy sudah menjadi istrinya tapi dia tidak menjadikan hal itu sebuah halangan untuk melaporkan Joy ke Polisi.
BalasHapusBikin, cerita lagi sob sngguh menarik:D
BalasHapusWah parahahahaha ,aku kurang paham mastah
BalasHapuscinta bisa membuat orang melakukan kejahatan.
BalasHapusCeritanya mantap sob,
BalasHapusGan minta yang fantasi dung
BalasHapusMungkin inilah bukti kalau cinta itu buta, dan bisa membutakan mata hati si joy, demi mendapatkan seseorang dia nekad menghabisi kekasih suaminya..hmm..sungguh terlalu
BalasHapus