Cinta Jingga Dan Teja.
"Teja, kenapa kamu tega banget padaku. Padahal aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan," Suara Jingga di kamarnya. Dia sedih karena Teja telah menuduhnya merusak hubungan Teja dengan Harnum, pacar Teja. Namun begitu, Jingga tidak sakit hati atas tuduhan tersebut.
Jingga diam, dia memejamkan kedua matanya, dicobanya untuk mengusir apa yang dirasa saat ini atas Teja.
"Apa ada yang salah atas ucapanku kemarin? Sehingga Teja begitu marah padaku," Suara Jingga lirih diujung bibir.
Seingat Jingga, dia hanya memberi tau kalau Harnum itu telah menduakan Teja. Namun Teja salah paham, dia mengira kalau hal itu sebagai kabar bohong yang mengada-ngada.
"Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan padaku Jingga. Harnum adalah wanita yang baik, setia. Jangan-jangan... aaah sudahlah!" Kata Teja pada Jingga.
"Kenapa kamu tidak percaya?" Kata Jingga.
"Karena Harnum itu seorang yang setia Jingga..
Sudahlah, sekarang kamu aku antar pulang," Suara Teja. Kemudian Teja menstater kendaraannya. Dia mengantar pulang Jingga sampai di rumahnya gadis tersebut.
"Teja, aku sungguh tidak rela jika kamu diperlakukan seperti oleh Harnum. Namun apa yang mesti aku lakukan? Sementara kamu tidak mempercayaiku," Jingga menghela nafas. Dia memejamkan kedua matanya yang bulat berbulu lentik tersebut. Ada perasaan bersalah pada diri Jingga kalau dia sampai membiarkan sahabatnya itu (Teja) dipermainkan oleh Harnum.
Ingin Jingga menemui Teja, tapi dia takut kalau nanti Teja semakin marah kepadanya.
Kini Jingga hanya diam dan sambil berdo'a, semoga Teja mau mendengarkannya.
Sementara itu jauh dari rumah Jingga, Teja duduk sendiri di depan rumah sambil sesekali wajahnya menengadah menatap langit yang malam itu tampak cerah dengan bertaburan bintang dan sinar rembulan yang tampak ke-emasan.
"Benarkah apa yang dikatakan oleh Jingga? Aku harus menyelidikinya.
Maafkan aku Jingga, bukan aku tidak percaya omonganmu, tapi selama ini Harnum memang setia padaku," Suara Teja lirih diantara nafasnya.
Jingga dan Teja adalah sahabat karib sejak kecil. Mereka sering melewati waktu bersama, entah itu saat bermain ataupun belajar. Sampai-sampai mereka selalu sama dalam memilih tempat belajar (Sekolahan) yakni dari TK sampai SMA.
Sewaktu masih duduk di bangku SMP dan SMA, mereka masih belum mau mengenal yang namanya Cinta, meskipun terkadang terbersit dihati mereka untuk bercinta karena desir-desir rasa yang mereka alami.
Setelah lulus dari SMA itulah kemudian Teja mulai mencari sebuah cinta. Namun tidak demikian pada Jingga, karena dia merasa kalau cintanya ada pada diri Teja, sehingga Jingga tidak perlu mencari jauh-jauh atas cintanya terhadap seorang pria, tapi Jingga tidak cukup ada keberanian untuk mengutarakan hal itu pada Teja.
"Harnum, kalau sampai benar apa yang dikatakan oleh Jingga, maka aku tidak perlu waktu lama untuk pergi darimu," Teja menyandarkan punggungnya pada dinding rumah. Kedua matanya masih sesekali memandangi gemintang di langit malam.
Seperti biasa, pagi itu Teja berangkat ketempat kerjanya. Dia menoleh kerumah Jingga yang memang setiap hari dilewatinya.
"Kemana Jingga? tumben dia tidak duduk di depan rumah," Kata Teja lirih. Teja terus melanjutkan jalannya dengan sepeda motor yang dinaikinya.
Teja memang seorang pekerja giat, sampai-sampai jatah jam lembur temannya pun dia mau menerimanya karena temannya tersebut memberikan jam lembur itu pada Teja. Malah saat hari minggu pun dia tetap masuk kerja.
Kini Teja kerja berangkat pagi pulang malam. Hampir tidak ada waktu buat menemui Jingga ataupun berduaan dengan Harnum, hal itu sudah dijalaninya dua minggu ini.
Setiap berangkat ataupun pulang kerja, Teja selalu menoleh ke rumah Jingga, namun dia selalu tidak mendapati kalau Jingga berada di depan rumahnya.
"Ada apa dengan Jingga ya?" Teja merebahkan tubuhnya ketempat tidur. Ingin dia kerumah Jingga, tapi niatnya diurungkan karena memang sudah larut malam, lagian dia pun sudah kecapekan karena pekerjaannya.
"Aku harus menemui Jingga, tapi kapan? Tidak ada waktu buatku untuk menemui dia saat-saat ini," Begitu kata Teja, kemudian dia memejamkan mata menuju ke negeri mimpi.
Pada suatu hari, Teja tersentak kaget manakala mengetahi kabar kalau sudah dua minggu ini Jingga tergolek di tempat tidur.
"Kamu tidak masuk kerja apa Ja?" Suara Ibunya Teja dari luar kamar.
"Hari ini aku libur kok Bu, capek banget," Jawab Teja pada sang Ibu.
"Ya sudah..
Anu lho nak, aku mau ketempat Bu Ajeng, mau menengok Jingga," Kata Ibunya Teja.
"Menengok Jingga? Memangnya ada apa dengan Jingga Bu?!" Teja bergegas bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar menemui Ibunya.
"Jingga sakit," Jawab sang Ibu.
"Sakit? Sakit apa dia Bu dan mulai kapan," Tanya Teja.
"Tidak tau sakitnya apa. Sudah dua mingguan ini katanya.
Ya sudah, Ibu mau kesana dulu," Ibunya Teja langsung meninggalkannya.
Teja terdiam, berbagai pertanyaan kini dibenaknya Teja atas Jingga. Kemudian dia menyusul sang Ibu ketempat Jingga.
"Astaghfirullah Jingga! Apa yang terjadi denganmu Jingga?!" Suara Teja setelah dirinya berada di kamar Jingga. Kedua mata Teja menatap tajam kearah tubuh Jingga.
Jingga diam, jangankan menjawab pertanyaan Teja tadi, membuka mata dan menggerakkan badannya saja dia serasa tidak mampu.
"Beginilah keadaan Jingga nak Teja. Dia tidak mau makan dan minum, keluar kamar juga tidak pernah lagi," Kata Ibu Ajeng, orang tuanya Jingga.
"Begitu ya Bu. Terus Jingga ini sakit apa? sudah di obatkan belum?" Teja kembali memandang Jingga yang tergolek.
"Tidak tau nak dia sakit apa. Dulu mau diajak ke puskesmas juga dianya tidak mau. Eh sekarang malah seperti ini keadaannya," Ujar Bu Ajeng.
"Begitu ya Bu.
Sebentar ya Bu, saya mau keluar sebentar," Teja keluar dari kamarnya Jingga. Dia langsung menstater sepeda motornya menuju ketempat seorang mantri suntik.
Tidak berapa lama kemudian Teja kembali kerumah Bu Ajeng dengan seorang mantri suntik lengkap dengan peralatan medisnya."Silahkan Pak," Kata Teja pada Pak mantri tersebut. Sang mantri suntik itu pun langsung memeriksa keadaan Jingga.
Mantri suntik tadi kemudian menyarankan pada Teja agar Jingga secepatnya dibawa ke Rumah Sakit.
"Maaf mas Teja, sebaiknya dia secepatnya dibawa ke Rumah Sakit, karena kalau terlambat bisa.." Mantri suntik itu tidak meneruskan ucapannya.
"Bisa apa Pak?" Tanya Teja.
"Maaf, bisa semakin parah dan mungkin nyawanya tidak bisa ditolong lagi," Kata Pak mantri. Teja menatap wajah Pak mantri dengan serius.
"Emm, baiklah kalau begitu Pak, tapi maaf.. sebenarnya Jingga ini sakit apa ya Pak?" Teja semakin dalam memandang tubuh Jingga.
"Saya tidak tau jelas apa penyakitnya mas, tapi kalau terlambat ditangani oleh yang ahli maka kemungkinan besar dia akan meninggal," Ujar Pak mantri tersebut. Mendengar penjelasan Pak mantri itu hati Teja jadi terenyuh. Dia tidak rela kalau harus membiarkan Jingga yang seperti itu. Setelah mengantar Pak mantri pulang, Teja kemudian meminta ijin pada Bu Ajeng dan keluarganya untuk membawa Jingga ke Rumah Sakit.
Dengan mobil milik sang Ayah, Teja langsung membawa Jingga ke Rumah Sakit terdekat.
Teja duduk sendiri diluar kamar perawatan. Jingga ditemani oleh Ibunya didalam kamar perawatan tersebut dan Jingga lagi diperiksa oleh seorang dokter.
"Bagaimana keadaan pasien bernama Jingga Mawarni Dokter?" Tanya Teja pada Dokter yang baru keluar dari kamar perawatan.
"Anda ini siapa?" Tanya sang Dokter.
"Saya saudaranya pasien bernama Jingga Mawarni yang ada didalam sana Dok," Teja menjelaskan.
"Keadaannya memprihatinkan. Silahkan ke ruangan saya kalau anda mau tau lebih jelasnya," Dokter itu melangkah menuju ke ruangannya dan di ikuti oleh Teja.
"Silahkan duduk.
Begini, dia mengalami pelemahan pada organ-organ tubuh dan hampir semua syarafnya tidak berfungsi. Hal itu mengakibatkan otaknya jadi mati begitu juga dengan yang lainnya," Kata Dokter menjelaskan.
"Terus Dok? Apa semua itu bisa dipulihkan? Maksudnya disembuhkan begitu Dok," Tanya Teja.
"Kami akan berusaha dan perlu keajaiban untuk itu," Kata sang Dokter, lantas Dokter tadi permisi mau memeriksa pasien yang lain. Teja pun keluar dari ruangan sang Dokter.
Hampir sebulan Jingga tergolek ditempat, di Rumah Sakit. Semakin hari keadaan Jingga malah semakin memburuk. Dia tidak bisa berbicara,tidak bisa membuka kedua matanya,tidak bisa menggerakkan badannya, dia cuma bisa mendengar sayup-sayup setiap ada orang yang berbicara didekatnya. Badan Jingga kini menjadi kurus kering seperti tidak berdaging.
Ibu Ajeng tampak melinangkan air mata, karena barusan datang seorang Dokter yang mengatakan pada dirinya kalau Jingga tidak bisa disembuhkan. Bahkan Dokter tersebut mengusulkan sebuah suntik mati pada Jingga karena keadannya yang semakin parah tersebut.
Ibu Ajeng pasrah tidak bisa berbuat apa-apa atas keaadaan anaknya, Jingga. Apalagi Ayahnya Jingga yang baru pulang dari merantau sebagai pekerja kuli batu menyetujuinya kalau Jingga disuntik mati karena dia juga tidak tega kalau melihat anaknya yang seperti itu.
"Ada apa Bu, Pak? kenapa Ibu dan Bapak seperti ini?" Tanya Teja yang baru datang ketempat itu.
Kedua orang tua Jingga kemudian menceritakan apa yang diusulkan oleh Dokter atas keadaan Jingga yang semakin parah.
Teja mendekat ke tubuh Jingga yang sudah tidak berdaya apa-apa. Digenggamnya telapak tangan Jingga oleh Teja. Teja terpejam, sedetik kemudian menetes air matanya.
"Jingga, kenapa kamu jadi seperti ini Jingga.
Jingga, aku tidak rela kalau kamu harus disuntik mati, sebab itu bukanlah jalan terbaik untuk gadis sebaik kamu Jingga.
Jingga, bangkitlah Jingga. Aku tau kalau kamu mampu untuk menjalani dan melewati ini semua.
Jingga, kamu jangan mati dengan cara seperti itu.
Bangkitlah Jingga. Aku masih ingin melihatmu tersenyum padaku, aku masih ingin bersamamu Jingga.
Jingga, tidak kah kamu ingat kalau kita selalu bersama?
Tidak kah kamu ingat kalau kita selalu bermain bersama? Ayo Jingga, kita kembali bermain lumpur disawah, saling melempar lumpur, lalu berlari dan terjatuh.
Jingga, aku sayang padamu, aku mencintamu Jingga," Kata Teja halus ditelingga Jingga, lantas Teja sesungukan dengan airmata mengalir dipipinya. Sebentar kemudian tampak airmata juga mengalir pada diri Jingga. Jingga mendengar semua apa yang dikatakan oleh Teja barusan.
Berlahan, jari-jari tangan Jingga bergerak-gerak dan hal itu sangat mengagetkan Teja.
"Lihat Bu, Pak. Jari tangan Jingga bergerak-gerak," Suara Teja pada kedua orang tua Jingga. Sejak saat itu, kehidupan pada diri Jingga berangsur mulai membaik. Jingga pun akhirnya dibawa pulang kembali ke rumah.
Setelah Jingga sembuh dari penyakitnya itu, Teja dan Jingga kemudian berpacaran.
Teja menyatakan cinta pada Jingga setelah terlebih dulu memutuskan hubungannya dengan Harnum, karena memang Harnum diketahui menduakan dirinya.
"Teja, aku tidak bohong kan? kalau Harnum itu telah menduakanmu," Suara Jingga dengan menatap manja pada Teja.
"Iya Jingga, maafkan aku yang tidak percaya padamu saat itu ya," Jawab Teja yang kemudian menyentuh hidung Jingga dengan jarinya. SEKIAN.
Cerita fiktif.
Penulis: мαdυмσє
http://zackymadumoe.mywapblog.com/cerpen-cinta-jingga-dan-teja.xhtml
BalasHapusyang kedua gan hadir ikut meramaikan aja :D
BalasHapusWow!
BalasHapusSo Sweet banget. :D
lalu jingga dan teja hidup bahagia selamanya.
BalasHapusitu abis teja nyentuh idungnya jingga trus gimana lagi bro, kayaknya ada jerawat ya :D xixixi