~ Cerpen: Kau Kukejar,Kau Menjauh ~

kau-kukejarkau-menjauh.jpg<br
Kau Kukejar,Kau Menjauh.

Nasib baik belum berpihak kepadaku,semua. Dalam urusan pekerjaan,apalagi urusan cinta. Semua seperti menjauh dariku meskipun aku telah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya.
"Budi,besuk kamu ketempat Pak Tono saja,sepertinya disana ada pekerjaan" kata Pak Paijo pemilik warung kopi yang biasa aku tongkrongi.
"Pak Tono siapa pak?" tanyaku.
"Itu lho Pak Tono pemilik sablon yang rumahnya dekat bangunan burung walet" kata Pak Paijo.
"Oh.. Pak Tono yang itu. Memangnya disana ada lowongan ya pak?" tanyaku pada Pak Paijo.
"Kata beliau sih begitu Bud. Kemarin Pak Tono bilang ke aku,kalau ada tenaga nganggur boleh pak ke tempatku" ujar Pak Paijo.
"Tapi aku tidak bisa menyablon lho pak" kataku.
"Ya kamu coba dulu Bud. Semua kan berawal dari tidak bisa,lalu belajar dan akhirnya mahir,iya kan?"kata Pak Paijo menjelaskan.
"iya pak" kataku sambil menuang kopi ke lepek gelas.
"Pada ngomongin apa ini? kok serius banget" suara Sarmanto yang baru datang.
"Eh kamu Man. Ini lagi ngomongin pekerjaan" jawabku.
"Pekerjaan apa Bud? Kopi satu ya pak" kata Sarmanto.
"Itu man,sablon di tempatnya Pak Tono" kataku.
"Wah.. bagus itu. Aku ikut dong Bud" suara Sarmanto.
"Wew.. lha aku saja belum kerja disana kok. Minta rokoknya pak satu batang saja" aku kemudian menyulut rokok tersebut.
"Ya tidak apa-apa kan Bud,nanti kita sama-sama kesana.
Eh Bud,bagaima yang kemarin itu?" kata Sarmanto.
"Yang kemarin apanya Man?" kataku dengan mengernyitkan dahi.
"Itu lho Sarkiyem" kata Sarmanto dengan mengulum senyum.
"Ah kamu Man,bikin malu saja. Aku dan Sarkiyem kan tidak ada apa-apa" kuhisap lagi rokok filter dijepitan jari.
"Lha buktinya kemarin kamu jalan bareng dengannya kan?" kata Sarmanto yang kemudian meniup kopi dalam gelas sebelum diminumnya.
"Mana.. Yeee,akan cuma mengantar dia saja.
Eh Man,kamu sendiri ngapain sama Wati kemarin? Aku lihat Wati kok bersungut-sungut gitu" tanyaku pada Sarmanto.
"Biasa Bud. Kalau cewek lagi ingin sesuatu,hehee" jawabnya. Kami terus asik ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul tidak tentu arah.

Budi duduk sendiri di pinggiran tempat tidurnya dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya.
"Hemm,asik nih kalau nanti sudah dapat kerja. Bisa ngumpulin uang dan bisa membeli yang aku impikan" kataku lirih. Karena hari sudah larut malam,aku langsung membaringkan tubuh kerempengku selanjutnya terpejam untuk mengarungi negeri mimpi.
Keesokan harinya setelah matahari pagi muncul,aku terbangun dan langsung menjalani aktifitas seperti hari kemarin. Kekamar kecil,kamar mandi,sarapan,nongkrong di depan rumah itulah aktifitasku,karena memang aku yang seorang pengangguran.
Aku tersentak saat aku ingat dengan kata-kata Pak Paijo di warung kopinya kemarin.
Aku langsung mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju ketempat Pak Tono.
"Selamat pagi pak" sapaku pada pak Tono yang lagi duduk didepan rumahnya.
"Selamat pagi juga. Kamu Budi kan? Silahkan duduk Bud.
Tumben kesini,ada apa Bud?" ucap pak Tono.
"Iya pak. Ini pak,cuma mampir saja.
Kok masih sepi pak,biasanya kan ramai oleh pekerja?" kataku.
"Belum pada datang Bud,biasanya jam 07.30 mereka datang.
Ini ada perlu atau hanya main saja? Sebentar ya" pak Tono mengambil plastik sablonan yang tercecer tertiup angin.
"Main pak,sambil mau nanya pekerjaan disini,siapa tau ditempat Bapak membutuhkan tenaga tambahan,hehee" ujarku.
"Oh..
Iya Bud,kemarin aku membutuhkan tenaga tapi sekarang sudah ada" kata Beliau. Aku terdiam sebentar sambil menggaruk kepala,busyet deh! sudah dapat tenaga lain ini pak Tono,dalam hatiku.
"Jadi sudah mendapat tenaga lain ya pak?" tanyaku.
"Iya Bud. Kenapa Bud,apa kamu mau kerja disini?" tanya pak Tono padaku.
"Emm iya sih pak,kalau masih ada lowongan maksud saya" jawabku.
"Sayang sekali Bud,sekarang tenaga disini sudah cukup. Coba kamu datang kemarin-kemarin,pasti aku terima kamu kerja disini.
Lha sekarang kesibukanmu apa Bud?" tanya beliau.
"Nganggur pak" jawabku dengan mimik wajah meringis,karena harapanku untuk bisa bekerja ditempatnya pak Tono sudah tertutup.
"Nanti misalkan ada kerjaan,tolong berikan pada saya ya pak" kataku pada pak Tono.
"Iya Bud,nanti aku kabari kamu kalau aku membutuhkan tenaga lagi" jawabnya.
Aku pamit pulang setelah berbasa-basi sama pak Tono. Aku langsung mengayuh sepeda menuju rumah.

"Hei Bud,darimana kamu? kesini sebentar" suara Sarmanto memanggilku. Aku langsung membelokkan laju sepedaku menuju ke arah Sarmanto.
"Dasar nasib Man!" kataku dan langsung turun dari sepeda.
"Kok nasib? memangnya kenasiban apa kamu Bud?" kata temanku itu dengan tanda tanya. Kuceritakan apa yang barusan aku dapat dari tempat pak Tono,eh Sarmanto malah tertawa terbahak.
"Emang lucu ya Man? bukannya ikut bersedih,malah tertawa" kataku sewot.
"Habis,kamu kemana saja mencari pekerjaan tapi hasilnya selalu nol,sama seperti diriku. Mungkin kita sudah dijatah menjadi pengangguran permanen Bud,hahaa" kata Sarmanto. Setelah dipikir-pikir,mungkin ada benarnya juga itu kata sarmanto,pengangguran permanen! kataku kesal. Aku dan Sarmanto pun tertawa karena nasib kami tersebut.
Jujur,bukannya aku tidak mau kerja,tapi memang begitulah nasib yang selalu kami dapatkan. Bertanya,melamar,tapi pekerjaan tidak kunjung kami dapatkan.
"Udah deh Bud,kita istirahat dulu memikirkan kerja,sekarang bagaimana dengan cinta kita masing-masing? akankah kita ngejomblo terus seperti ini!" cerocos Sarmanto.
"Tau ah,pusing Man!
Memikirkan cinta juga sama saja,tidak dapat cewek,yang ada malah ditolak sana sini" aku terdiam.
Memang sih,aku dan Sarmanto punya nasib yang hampir sama. Sama-sama pengangguran,yang membedakan cuma Sarmanto itu sudah pernah punya pacar,sedangkan aku belum,itu saja.
Sudah aku coba mendekati kebeberapa gadis di kampungku dan kampung sebelah,namun semua tidak mulus sesuai harapanku.
Mula-mula sih mereka sangat menyenangkan (gadis-gadis itu). Kami berkenalan,lalu seperti biasa saling bercanda. Kedekatanku dengan mereka sangatlah menyenangkan buatku. Namun semua berbalik pada ketidak mengertianku,saat aku coba menembak ke salah satu dari mereka,eh dia cuek tidak memperdulikan perasaanku. Setelah itu dia malah menjauh dariku,hal ini tidak cuma sekali dua kali saat kukejar mereka dan mereka malah menjauh.
"Dueerr,ngapain melamun Bud?!" suara Sarmanto mengagetkanku. SELESAI.

Penulis Cerita: мαdυмσє

9 Responses to "~ Cerpen: Kau Kukejar,Kau Menjauh ~"

  1. мαdυмσє вlσg7 Juni 2015 pukul 14.32

    http://zackymadumoe.mywapblog.com/cerpen-kau-kukejarkau-menjauh-2.xhtml

    BalasHapus
  2. Cerpen: Kau Kukejar,Kau
    Menjauh kyk lagunya five minutes aja ya gan

    BalasHapus
  3. ternyata bukan hanya cinta yang dikejar malah menjauh pekerjaanpun juga baru dapat kabar semalam pas didatangi sudah ada yang ngisi mungkin ngga usah dikejar kali biar ngga menjauh...he he he he

    BalasHapus
  4. putuadimarta rachman7 Juni 2015 pukul 16.55

    Meski sabar aja kayanya si budi ini apalagi saat nemuin situasi sprti ini, ngelamar kerjaan eh malah keduluan diisi orang lain deh, masalah asmara kayanya susah jg ya mencarinya apalagi punya status pengangguran..

    BalasHapus
  5. mantap bos, bagus postnya. Krna blogwalking, jdi minta anunya ya. qxqx.

    BalasHapus
  6. Singgih Tutorial7 Juni 2015 pukul 19.51

    Kayaknya si Budi harus lebih bersabar dlam menghadapi 2 hal yg rumit

    BalasHapus
  7. Danang Dirgantara7 Juni 2015 pukul 21.59

    wah malah main kejar2an bro :D

    BalasHapus
  8. Mlm gan..... Hadir untk meramaikan...

    BalasHapus
  9. Εκυητ FreeMP37 Juni 2015 pukul 22.13

    hadir gan,,

    BalasHapus